Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Sempani Gugur Bagian 5, Geger di Tegal Kurusetra

Ki Damar • Selasa, 25 Februari 2025 | 02:45 WIB
Ilustrasi lakon wayang Sempani Gugur
Ilustrasi lakon wayang Sempani Gugur

Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*

MENDENGAR itu, Duryudana tertawa puas, wajahnya dipenuhi gairah balas dendam yang membara.

"Aku merasa sangat senang, Paman Panembahan! Hai, Prabu Kresna, tunggu saja pembalasanku! Apa hanya kau saja yang bisa curang, hah?"

Matanya menatap ke kejauhan, membayangkan betapa Kresna akan menangis dan bersedih ketika kehilangan orang-orang yang dicintainya.

"Tunggu saja balasan kami. Kau akan merasakan sakit yang lebih besar daripada yang kami rasakan!"

Duryudana semakin bersemangat, ia menoleh kepada Begawan Sempani dengan penuh harapan.

"Paman Sempani, utuslah Jayadrata untuk membunuh Arjuna! Dia adalah adik kesayangan Sri Kresna. Kehilangannya akan menjadi pukulan yang lebih menyakitkan bagi mereka!"

Namun, Sempani menggeleng pelan, senyumnya misterius.

"Tidak semudah itu, Anak Prabu. Karena Jayadrata kini hanya bisa dikendalikan oleh kekuatan cipta yang kupuja, dia tidak memiliki akal atau kesadaran. Dia hanya akan menyerang siapa saja yang berada di dekatnya. Aku tidak bisa mengarahkannya secara spesifik."

Duryudana sempat kecewa, namun Sengkuni yang dari tadi diam, mulai tertarik dengan penjelasan sang resi.

"Lalu, mengapa kau begitu yakin bahwa Jayadrata bisa membunuh Pandawa?"

Sempani tersenyum licik. "Karena orang yang sudah mati… tidak bisa mati lagi."

Mata Sengkuni dan Duryudana membelalak, memproses kata-kata itu di dalam pikiran mereka.

"Maksudmu?" tanya Sengkuni.

"Jayadrata tidak akan bisa dibunuh untuk kedua kalinya. Pandawa mungkin bisa menebasnya, tetapi dia akan terus bangkit. Aku adalah sumber kehidupan bagi anakku, selama aku tetap mengendalikan kekuatannya, Jayadrata akan terus hidup… dan menyerang!"

Duryudana terdiam sejenak, lalu tiba-tiba tertawa keras. "Hahaha! Benar juga! Tidak ada manusia yang mati dua kali! Yang ada hanyalah orang hidup yang dibunuh! Hahaha!"

Sengkuni ikut tertawa, merasakan harapan baru di tengah kekalahan yang mulai membayangi pihak Kurawa.

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, Duryudana segera memerintahkan agar disiapkan tempat khusus di dekat medan perang untuk melaksanakan ritual yang diinginkan oleh Sempani.

Sementara itu, Sengkuni sendiri yang membawa kepala Jayadrata menuju medan Perang Baratayudha.

Di bawah langit yang mulai gelap, keajaiban mengerikan pun terjadi.

Kepala Raja Sindu itu tiba-tiba hidup kembali!

Dengan mata yang menyala merah, mulutnya menggigit sebilah keris, dan tanpa ragu bergerak sendiri, melayang menuju pesanggrahan Pandawa…

Geger di medan perang baru saja dimulai…

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Baratayudha #Lakon #wayang #Sengkuni #Duryudana