Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lakon Wayang Sempani Gugur Bagian 7 Habis, Sang Bapak Pergi Bersama Dinginnya Hujan

Ki Damar • Selasa, 25 Februari 2025 | 04:15 WIB
Ilustrasi lakon wayang Sempani Gugur
Ilustrasi lakon wayang Sempani Gugur

Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*

KRESNA menatap tajam ke arah Bima dan Arjuna, lalu berkata dengan suara penuh keyakinan.

"Kalian tidak tahukah bahwa Jayadrata adalah anak pujaan Prabu Sempani sejak dahulu?"

Pandawa terdiam, mendengarkan kisah yang selama ini tersembunyi.

"Saat kau masih kecil, Bima," lanjut Kresna, "saat baru pecah dari bungkus di usia 12 tahun, kulit bungkus kelahiranmu diambil oleh Prabu Sempani. Menurut wangsit yang ia terima, jika ia ingin memiliki anak, maka ia harus membawa kulit bungkus dari kelahiran seorang satria sakti. Maka ia melakukan pemujaan, dan lahirlah Jayadrata."**

Bima mengerutkan keningnya, mengingat nama lain Jayadrata.

"Itu sebabnya ia disebut Tirtanata… yang berarti Raja Air?"

Kresna tersenyum kecil, "Benar. Jayadrata akan hidup kembali jika dimandikan oleh hujan pertama di musim kemarau. Maka ia disebut ‘Rajanya Air.’"

Arjuna yang sejak tadi diam mulai berbicara, "Lalu bagaimana cara menghentikannya?"

Kresna menatap Arjuna serius.

"Kau harus menemui Prabu Sempani. Ia ada di hutan dekat Tegal Kuru sebelah barat. Ganggu ia, buat ia marah, dan pancing hingga ia mengucapkan kata-kata larangan... ‘Jayadrata mati.’ Jika ia mengatakannya, maka Jayadrata akan benar-benar lenyap."

Tanpa ragu, Arjuna segera bergegas ke hutan untuk menemukan Prabu Sempani.

Di dalam hutan yang sunyi dan gelap, Arjuna mencari-cari keberadaan Sempani.

Langkahnya mantap, matanya tajam menyapu pepohonan.

Hingga akhirnya, ia melihat seorang lelaki tua berjubah lusuh duduk di bawah pohon besar, termenung dalam kesedihan.

Arjuna mendekat, lalu berkata lantang,

"Apa dosaku padamu, Panembahan, hingga kau membuat Pandawa kewalahan dengan kejahatanmu?!"

Prabu Sempani terkejut dan naik pitam.

"Kalian yang lebih jahat!" teriaknya marah. "Kalian telah memenggal kepala anakku! Kalian membunuh Jayadrata! Jayadrata… mati…!"

Baru saja kata itu meluncur dari bibirnya, Sempani tersentak.

Matanya melebar, tubuhnya bergetar.

Ia sadar, ia telah mengucapkan kata terlarang yang berarti ia sendiri yang mencabut nyawa anaknya.

Sempani jatuh terduduk, menggenggam tanah dengan jemari gemetar.

"Pandawa… kalian kejam…" suaranya melemah, "Ini pasti ulah Kresna… dialah yang memberitahumu cara mengalahkanku…"

Ia terisak, menangisi anaknya yang telah pergi selamanya.

Arjuna menatapnya dengan iba, tetapi tetap tegas,

"Ikhlaskan saja anakmu, Panembahan. Jangan ikut campur dalam peperangan kami. Ini bukan sekadar perang… ini perang yang mengerikan."

Sempani menutup matanya, tubuhnya melemas dalam kepasrahan.

"Aku yang menghidupkan Jayadrata, dan aku pula yang membunuhnya… Jika anakku telah pergi, maka aku akan ikut dengannya.

Ia menatap Arjuna dengan tatapan kosong, lalu berkata,

"Ciptakan hujan… biarkan aku mati dalam kedinginan, bersama air yang dulu menghidupkan Jayadrata. Aku ingin bersamanya selamanya…"

Arjuna mengangkat tangannya ke langit dan mengucapkan mantra pemanggil hujan.

Langit mendung seketika.

Tetesan air mulai turun perlahan… lalu semakin deras… hingga badai mengguyur hutan itu.

Sempani menggigil. Tubuhnya melemah, jatuh ke tanah, dan perlahan kehilangan nyawanya.

Ia pergi bersama dinginnya hujan… mengikuti jejak anaknya yang telah lebih dulu lenyap dari dunia.

Jayadrata dan Prabu Sempani benar-benar telah musnah. Kini, perang Baratayudha tetap berlanjut.

Dan Pandawa harus bersiap menghadapi kemarahan Kurawa yang semakin membara.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#jayadrata #Kresna #Baratayudha #arjuna #Lakon #wayang