Jawa Pos Radar Madiun – Dalam dunia sastra silat, kisah perjalanan seorang pendekar sering kali diawali dengan penderitaan dan ujian berat.
Salah satu tokoh yang memiliki latar belakang tragis sebelum menjadi legenda adalah Kwa Sin Liong, yang kemudian dikenal sebagai Bu Kek Siansu.
Kehidupan awalnya penuh dengan luka, bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental dan emosional.
Perjalanan hidupnya menggambarkan bagaimana seorang anak kecil yang ditinggalkan dunia, justru tumbuh menjadi sosok penuh kebijaksanaan dan kekuatan.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Kho Ping Hoo Bagian 22, Menangis, Tertawa, dan Marah di Depan Mesin Ketik
Asal-Usul Sin Liong
Kwa Sin Liong lahir dari keluarga sederhana di kota Kun-Leng.
Sebuah kota kecil di sebelah timur pegunungan Jeng-hoa-san.
Ayahnya adalah seorang pedagang obat yang cukup kaya dan dihormati.
Sementara ibunya adalah wanita bijaksana yang merawat keluarganya dengan penuh kasih sayang.
Nama Sin Liong atau Naga Sakti diberikan kepadanya karena sang ibu bermimpi melihat naga terbang di angkasa saat mengandungnya.
Nama ini kelak menjadi simbol kekuatan dan keistimewaannya di kemudian hari.
Namun, kehidupan bahagia itu tidak berlangsung lama.
Malam yang tragis mengubah seluruh kehidupannya ketika tiga orang pencuri memasuki rumah keluarganya.
Niat awal mereka hanya mencuri harta benda, tetapi keadaan berubah ketika mereka dipergoki oleh orang tua Sin Liong.
Dalam kepanikan, para pencuri tersebut menghabisi ayah dan ibu Sin Liong dengan bacokan golok yang mengerikan.
Bocah kecil berusia lima tahun itu menyaksikan pembantaian orang tuanya tanpa mampu bersuara, membisu karena ketakutan yang luar biasa.
Mengasingkan Diri ketika Berusia Lima Tahun
Ketika penduduk setempat mengetahui kejadian ini, mereka segera mengejar para pencuri dan melakukan pembalasan dengan cara yang lebih kejam.
Para pencuri itu dihujani pukulan dan bacokan hingga tubuh mereka hancur lebur.
Namun, bagi Sin Liong yang masih belia, peristiwa ini menjadi trauma mendalam.
Ia tidak hanya melihat kematian orang tuanya, tetapi juga menyaksikan kebrutalan manusia yang seharusnya melindunginya.
Dalam ketakutan dan kebingungan, Sin Liong melarikan diri dari kota Kun-Leng.
Ia terus berlari tanpa tujuan, hingga akhirnya tiba di sebuah hutan yang kemudian dikenal sebagai Jeng Hoa San (Gunung Seribu Bunga).
Baca Juga: Tendangan Roket Arnautovic Bawa Inter Milan ke Semifinal Coppa Italia! Simak Rating Pemainnya
Di tempat inilah ia menemukan perlindungan dan kebebasan dari kejamnya dunia manusia.
Seorang diri di tengah hutan, Sin Liong hidup dengan bertahan dari buah-buahan liar dan akar-akaran.
Dia belajar membedakan mana yang bisa dimakan dan mana yang beracun, sebuah keterampilan yang sangat berguna di kemudian hari.
Masa Kecil di Gunung Seribu Bunga
Hutan Seribu Bunga menjadi rumah bagi Sin Liong selama dua tahun.
Dalam kesendiriannya, ia menemukan ketenangan yang tidak bisa ia dapatkan di dunia manusia.
Pengalaman pahit yang ia lalui membuatnya lebih peka terhadap alam.
Tanpa disadari, ia mulai menyerap energi dari matahari dan bulan.
Kebiasaannya mandi di bawah sinar matahari pagi dan cahaya bulan purnama memberikan efek luar biasa bagi tubuhnya.
Itu memperkuat tulang dan mengembangkan tenaga dalam yang kelak menjadi dasar ilmu silatnya.
Sebagai anak dari seorang pedagang obat, Sin Liong sejak kecil sudah memiliki sedikit pengetahuan tentang tumbuhan obat.
Ketika hidup sendiri di hutan, ia memperdalam pengetahuannya secara alami, mengandalkan insting dan pengalaman.
Ia belajar dari rasa, aroma, dan efek tumbuhan terhadap tubuhnya sendiri.
Penciumannya menjadi sangat tajam, mampu membedakan khasiat setiap daun dan akar hanya dengan menghirup baunya.
Anak Sekecil Itu Pertanyakan Sifat Manusia
Meski hutan memberikan ketenangan, Sin Liong tidak dapat sepenuhnya menghindari kenyataan hidup.
Trauma yang ia alami membuatnya mempertanyakan sifat manusia.
Ia melihat bagaimana kejahatan dilakukan tidak hanya oleh penjahat, tetapi juga oleh orang-orang yang menganggap diri mereka benar.
Para tetangga yang tampaknya bersimpati terhadapnya, ternyata juga merampas harta benda keluarganya dengan alasan ‘mengamankan’ barang-barang yang ditinggalkan.
Perjalanan Sin Liong dari seorang bocah terlunta hingga menjadi pendekar besar bukanlah sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin.
Pengasingannya di hutan bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga sebagai proses penyembuhan dan pencarian makna hidup.
Kesendirian membuatnya lebih bijaksana, lebih peka terhadap ketidakadilan.
Akhirnya membentuknya menjadi sosok yang memiliki belas kasih serta kebijaksanaan luar biasa.
Kelak, bocah ini akan dikenal sebagai Bu Kek Siansu, seorang pendekar sakti yang hidup tanpa keterikatan dan tanpa kekalahan.
Namun, sebelum mencapai tahap itu, ia harus melalui berbagai ujian, baik dari dunia luar maupun dari dalam dirinya sendiri.
Kisah awal kehidupannya adalah cerminan dari bagaimana seorang manusia bisa bangkit dari kehancuran dan menemukan jati dirinya dalam kedamaian dan kebijaksanaan. (fin)
Editor : Mizan Ahsani