Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
KATA-kata bersayap Sri Kresna sepenuhnya dipahami oleh Puntadewa. "Akan kami lakukan sebagaimana yang Kanda Prabu peringatkan," jawabnya mantap.
Benar saja, tak lama kemudian Begawan Durna, yang pikirannya sudah kacau dan hatinya kalang kabut, datang menemui Puntadewa.
Ia menatap pemuda itu dengan penuh harap dan kegelisahan.
"Puntadewa, anakku," ucapnya dengan suara bergetar, "kau adalah salah satu manusia langka yang memiliki darah berwarna putih," ujarnya.
"Darah putih yang jika menetes ke bumi dapat menyebabkan bumi terbelah. Hati orang yang berdarah putih dipenuhi dengan kerelaan tiada tara," sambung Durna.
"Apapun yang diminta orang kepadamu, tanpa memandang golongannya, pasti akan kau kabulkan. Dan yang terpenting, kau tak pernah sekalipun berbohong.”
Durna memuji-muji Puntadewa, berharap sanjungannya akan membuat pemuda itu mengatakan kebenaran yang ia inginkan, bahwa putranya masih hidup.
"Sekarang aku berdiri di hadapan manusia yang jujur dan suci. Katakan, apakah benar Aswatama telah mati? Itu tidak benar, bukan? Aswatama masih hidup, bukan?" tanyanya.
Puntadewa terdiam sejenak. Dalam hatinya, ia sadar bahwa ini adalah momen penentu.
Namun, di tengah kekalutan pikirannya dan riuhnya medan perang, ia akhirnya berkata. "Bapa Guru, yang kami tahu… memang Hestitama telah mati."
Ia mengucapkan nama Hesti dengan suara sangat pelan, sementara menekan kata Tama agar terdengar lebih jelas.
Durna, yang pikirannya sudah diliputi kecemasan, mendengar kata Tama dengan jelas dan segera menyimpulkannya sebagai Aswatama, putranya sendiri.
Seketika tubuhnya lemas, ia terhuyung ke belakang dan jatuh bersandar pada tebing batu, wajahnya pucat pasi.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani