Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
SEKETIKA Drestajumna terperanjat. Rasa bersalah yang menghantui jiwanya membuatnya kaget setengah mati.
Namun, sejenak kemudian, ia merasa hatinya sejuk ketika Prabu Kresna meraih tubuhnya yang berlumuran darah dan memeluknya dengan lembut.
Di sisi lain, Werkudara menatap tajam ke arah tubuh Begawan Durna yang telah terpenggal. Ia seakan tidak terima bahwa Drestajumna telah membunuh gurunya.
Namun, tangan kiri Prabu Kresna perlahan menyentuh kakinya.
"Tenangkan pikiranmu, adikku. Kau tak akan sanggup melakukan seperti apa yang telah dilakukan adikmu Drestajumna. Ia hanya menjalankan tugas yang telah diemban sejak dulu."
Werkudara terdiam.
Ingatannya kembali pada janji mendiang Prabu Drupada, raja Pancala, yang selalu berdoa agar dikaruniai seorang putra laki-laki untuk menuntut balas kepada Durna.
Kini, janji itu telah terpenuhi. Akhirnya, Werkudara menghela napas, mereda, dan pasrah pada takdir yang telah digariskan.
Sri Kresna pun bersabda, "Drestajumna, tidak ada yang perlu kamu sesali. Segalanya sudah menjadi ketetapan dari Yang Maha Kuasa. Ini bukan salahmu. Sebagai titisan Wisnu, aku mengetahui bahwa tindakanmu bukan atas kehendakmu sendiri. Sukma Palgunadi telah membalas ketidakadilan yang ia terima sebagai murid. Ini adalah ganjaran yang setimpal bagi Durna atas pilih kasihnya."
Kresna menatap Drestajumna dengan penuh ketegasan. "Segera kembali ke kereta senapati perang. Jangan biarkan semangat pasukan kita meredup sebelum matahari tenggelam!"
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani