Jawa Pos Radar Madiun – Pat-jiu Kai-ong berambisi menguasai Sin Liong, bocah ajaib yang kelak berjuluk Bu Kek Siansu.
Namun, niatnya yang jahat itu mendapat perlawanan dari para pendekar gagah.
Di tengah perjalanan menuju Pegunungan Jeng Hoa San, ia dihadang oleh Cap-sha Sin-hiap (Tiga Belas Pendekar Sakti).
Para pendekar itu mencurigai niat Raja Pengemis Berlengan Delapan.
Siapa Itu Cap-sha Sin-hiap?
Cap-sha Sin-hiap adalah kelompok pendekar utama dari Bu-tong-pai.
Perguruan ini terkenal dengan keahlian pedangnya yang luar biasa.
Kelompok ini terdiri dari tiga belas pendekar.
Dua belas di antaranya adalah laki-laki berusia 30–40 tahun.
Satu-satunya wanita bernama Kwat Lin, berusia 25 tahun.
Mereka bukan pendekar sembarangan.
Mereka adalah murid pilihan yang menguasai ilmu silat tingkat tinggi.
Salah satu jurus andalannya Ngo-heng-kiam (Ilmu Pedang Lima Unsur).
Selain itu, mereka memiliki strategi bertarung yang disebut Sin-kiam-tin (Barisan Pedang Sakti).
Formasi ini memungkinkan mereka menyerang lawan secara terkoordinasi dan sulit diprediksi.
Kehebatan Tiga Belas Pendekar Sakti
Sebagai pendekar utama Bu-tong-pai, Cap-sha Sin-hiap memiliki beberapa keunggulan:
1. Teknik Pedang Mematikan: Mereka menguasai ilmu pedang khas Bu-tong-pai yang cepat, tajam, dan sulit ditembus.
2. Kelincahan Luar Biasa: Latihan bertahun-tahun membuat mereka gesit dan ringan dalam bergerak.
3. Formasi Tempur Sin-kiam-tin : Formasi ini memperkuat serangan mereka dan menyulitkan lawan.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Kho Ping Hoo Bagian 22, Menangis, Tertawa, dan Marah di Depan Mesin Ketik
Pertarungan Sengit Melawan Pat-jiu Kai-ong
Cap-sha Sin-hiap menghadapi Pat-jiu Kai-ong, seorang tokoh sesat yang mencari Sin-tong.
Bocah ajaib ini diramalkan memiliki kekuatan luar biasa.
Awalnya, mereka menggunakan formasi Sin-kiam-tin untuk menghadapi sang kakek sakti.
Namun, mereka harus mengakui kesaktian datuk sesat itu masih lebih unggul.
Dalam waktu singkat, dua belas pendekar Bu-tong-pai tewas mengenaskan.
The Kwat Lin menjadi satu-satunya yang tersisa.
Ia sempat terhinakan oleh Pat-jiu Kai-ong.
Tekadnya bulat untuk membalas dendam kematian saudara seperguruannya.
Baca Juga: Jejak Kho Ping Hoo di Dunia Kangouw Bagian 3, Bukan Sekadar Jurus Silat Berlumur Darah
Pelajaran dari Kisah Cap-sha Sin-hiap
Sepenggal Kisah Bu Kek Siansu karya Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo ini memberikan pelajaran berharga.
Bahwa kehebatan ilmu silat saja tidak cukup untuk menjamin kemenangan.
Lawan yang lebih sakti dan memiliki strategi lebih unggul bisa mengalahkan pendekar sehebat apa pun.
Meski dikenal sebagai kelompok yang sakti dan disegani, Cap-sha Sin-hiap akhirnya takluk di tangan musuh yang lebih kuat.
Pertarungan mereka menjadi gambaran nyata betapa keras dan kejamnya dunia persilatan.
Di mana kekuatan, kecerdikan, dan keberuntungan sering kali turut menentukan. (fin)
Editor : Mizan Ahsani