Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
NAMUN, Rama dengan lembut menolak keinginan para punggawa yang hendak mengikutinya.
Baginya, keputusan ini adalah kehendak dewa yang disampaikan melalui perantaraan ayahandanya, Prabu Dasarata.
Dengan penuh keteguhan hati, Rama berkata kepada para punggawa.
"Kembalilah kalian ke istana. Aku sangat mencintai kanjeng rama. Segala titahnya akan aku jalankan dengan penuh kepatuhan. Aku dapat melihat dunia, memahami arah utara, selatan, timur, dan barat, semua itu karena beliau," tuturnya.
"Sampaikan kepada kanjeng rama bahwa aku menerima pengasingan ini dengan senang hati dan akan menjalani kehidupan di hutan-hutan lebat dengan penuh keikhlasan," sambung Rama.
Sejak saat itu, Rama, Sinta, dan Lesmana hidup di dalam hutan yang rimbun dan penuh tantangan.
Dewi Sinta, sebagai seorang istri yang setia, tidak pernah mengeluh sedikit pun.
Meski sejak kecil ia hidup di istana dengan segala kemewahannya, kini harus menjalani hidup yang penuh kesederhanaan dan kesulitan di tengah hutan.
Namun, kesetiaannya kepada Rama tak pernah tergoyahkan. Ia tidak menyalahkan suaminya, tidak pula menyesali nasib yang menimpanya.
Baginya, kebahagiaan sejati adalah selalu berada di sisi Rama, dalam keadaan apapun.
Pada hari-hari pertama, mereka tidur beralaskan batu, beristirahat di atas rumput yang dingin, bersandar pada batang pohon, atau bersemedi di tengah heningnya malam.
Sementara itu, para menteri dan punggawa yang diam-diam tetap mengawal dari kejauhan, menjaga keselamatan tiga sosok yang mereka cintai.
Namun, pada suatu pagi, ketika para punggawa terbangun, mereka mendapati Rama, Sinta, dan Lesmana telah menghilang.
Tanpa sepengetahuan mereka, tiga tokoh utama Ayodya itu telah pergi meninggalkan para pengikutnya secara diam-diam di malam sebelumnya.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani