Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lakon Wayang Rama Tundhung Bagian 7 Habis, Kejahatan yang Dibiarkan Adalah Petaka di Kemudian Hari

Ki Damar • Minggu, 2 Maret 2025 | 03:30 WIB
Ilustrasi lakon wayang Rama Tundhung
Ilustrasi lakon wayang Rama Tundhung

Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*

RAMA merasa lega dan senang hati melihat ketulusan Barata. Ia pun berpesan pada adiknya.

"He, Barata. Jika engkau telah menjadi raja, ada satu pesan dariku. Di istana terdapat petunjuk tertulis tentang bagaimana seorang raja harus bertingkah laku. Pelajarilah sastra itu baik-baik."

Barata mengangguk dan bertanya penasaran. "Sastra apa itu, Kakak?"

Rama Wijaya tersenyum dan menjelaskan.

"Di dalamnya dijelaskan bagaimana sejak dahulu seorang raja harus memimpin. Engkau harus mengenali sifat manusia—mulai dari yang jahat, yang baik, hingga yang utama. Cara menghadapi mereka pun berbeda-beda" jelas Rama.

Orang jahat, kata Rama, sering menimbulkan keonaran, bahkan bisa merenggut nyawa sesama manusia.

"Tugasmu adalah memperbaiki kelakuan mereka dan menjadikan mereka pribadi yang lebih baik. Bagi mereka yang sudah baik, bantulah agar mereka mencapai keutamaan. Sedangkan bagi mereka yang telah utama, jadikanlah mereka temanmu," imbuh Rama.

Sang kakak. Terus memberi wejangan kepada adiknya.

"Namun, ingatlah! Baik yang jahat, yang baik, maupun yang utama tetaplah rakyatmu. Mereka semua berhak mendapatkan perlakuan yang adil," pesannya.

"Tetapi, bila ada orang jahat yang telah kau upayakan untuk berubah, namun tetap berbuat onar dan merugikan banyak nyawa, jangan ragu untuk menyingkirkannya. Kejahatan yang dibiarkan hanya akan menjadi bibit petaka di masa depan," sambung Rama.

Barata hanya terpaku menatap sang kakak. Ia menyimak setiap pesan Rama.

"Selain itu, jauhkan rakyatmu dari perbuatan maksiat. Hindarkan mereka dari kebiasaan buruk seperti mencuri, berjudi, berzina, mabuk-mabukan, bermalas-malasan, dan hidup dalam kemewahan tanpa kerja keras. Seorang raja harus mampu menuntun rakyatnya menuju kehidupan yang lebih baik," tutup Rama.

Barata mendengarkan dengan penuh khidmat. Setelah menerima petunjuk-petunjuk dari kakaknya, ia merasa seperti menjadi manusia baru. Dengan penuh haru, ia pun berpamitan.

Perpisahan itu terasa sangat mengharukan. Barata bersujud dengan penuh hormat, air matanya menetes, begitu pula para adipati dan bupati yang hadir.

Dalam hatinya, Barata berjanji bahwa ia hanya akan memerintah Ayodya atas nama Rama.

Baginya, Rama tetaplah raja sejati Ayodya, sementara dirinya hanyalah wakil yang mengemban amanah dari kakaknya.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Barata #Rama #Lakon #wayang