Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
"PUTRA paduka, Ramabadra, sungguh luar biasa. Ia berhasil memenangkan sayembara yang begitu sulit. Sekian banyak raja, satria, dan bupati bertubuh besar serta gagah perkasa telah mencoba, tetapi tak satu pun mampu menarik gendewa raksasa tersebut," tutur Prabu Janaka.
"Namun, putra paduka, Ramabadra, melakukannya dengan begitu mudah," sambung sang raja Mantili, dengan penuh kekaguman.
Mendengar sambutan itu, Prabu Dasarata hanya tertawa bahagia.
Kedua raja pun melanjutkan perjalanan memasuki kota dan langsung menuju istana. Acara pertama yang digelar adalah pesta makan bersama sebagai bentuk syukur atas keberhasilan sayembara.
Setelah itu, rombongan Prabu Dasarata dipersilakan beristirahat di pesanggrahan.
Persiapan upacara temu telah selesai. Saat momen sakral itu tiba, para dewa dan bidadari turut hadir untuk menyaksikan.
Istana Mantili dihias dengan sangat megah, mencerminkan kebahagiaan seluruh negeri. Kedua pengantin tampil anggun dengan pakaian indah yang memancarkan kemewahan.
Setiap tamu yang hadir terpesona melihat ketampanan dan kecantikan pasangan pengantin tersebut.
Saat keduanya dipersandingkan, mereka tampak bak Batara Kamajaya dan Dewi Kamaratih yang turun ke bumi.
Kedua pengantin lalu melakukan sembah sungkem kepada kedua raja, sebagai bentuk bakti dan penghormatan.
Para bidadari yang hadir pun tak henti-hentinya memandangi Dewi Sinta dengan penuh kekaguman. Tak ada satu pun dari mereka yang mampu menandingi kecantikannya.
Bahkan, para tamu putri yang hadir tertegun melihat ketampanan pengantin pria, hingga lupa makan dan minum.
Keesokan harinya, Prabu Dasarata menyampaikan maksudnya untuk mengadakan upacara ngunduh mantu, yakni memboyong kedua pengantin ke Ayodya dan merayakan pernikahan mereka di sana.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani