Jawa Pos Radar Madiun – Pertarungan sengit di puncak Gunung Seribu Bunga (Jeng Hoa San) menjadi penentu nasib Sin Liong, bocah ajaib yang kelak berjuluk Bu Kek Siansu.
Tujuh pendekar sakti itu tidak hanya mempertaruhkan harga diri.
Mereka juga bertarung demi hak asuh bocah ajaib (Sin Tong) yang diyakini akan menjadi pendekar hebat di masa depan.
Siapakah yang keluar sebagai pemenang.
Aksi Memukau di Tengah Dentingan Senjata
Di tengah arena yang bergemuruh oleh teriakan dan dentingan senjata, tujuh pendekar sakti bertarung dalam duel mematikan.
Setiap gerakan harus diperhitungkan dengan cermat.
Sedikit saja kesalahan bisa berakibat fatal.
Pertarungan ini bukan sekadar mengumbar jurus, tetapi adu strategi, ketahanan, dan ketangkasan dalam membaca pola serangan lawan.
Kecepatan, kekuatan, serta keberanian menjadi kunci untuk bertahan dan memenangkan pertempuran.
Luka Badan Tak Surutkan Nyali Para Pendekar
Thian-he Te-it harus menahan rasa sakit luar biasa setelah pahanya dihantam tongkat Thian-tok.
Serangan itu begitu kuat hingga nyeri tajam menjalar ke seluruh kakinya, memperlambat gerakannya.
Pat-jiu Kai-ong juga tidak luput dari serangan. Pundaknya terserempet pedang kembar Siang-kiam milik Tee-tok, menyebabkan luka berdarah yang cukup dalam.
Namun, ia tetap bertahan dan tidak membiarkan luka itu melemahkan semangat bertarungnya.
Lam-hai Seng-jin dan Gin-siauw Siucai beradu tenaga dalam benturan dahsyat.
Keduanya memiliki tenaga dalam luar biasa, tetapi akibat pertemuan tenaga tersebut, mereka sama-sama tergetar hebat hingga memuntahkan darah.
Meski begitu, berkat penguasaan sinkang yang tinggi, mereka berhasil mengendalikan diri dan mencegah luka dalam yang lebih parah.
Kekacauan dalam Pertarungan Berkelompok
Jika pertarungan dilakukan satu lawan satu, mungkin akan lebih mudah menentukan siapa pemenang dan pecundang.
Namun, karena ketujuh pendekar maju bersamaan dan memiliki kepandaian yang setara, pertarungan pun berubah menjadi kacau balau.
Tak ada strategi yang benar-benar bisa diterapkan dengan efektif.
Masing-masing pendekar harus menyerang sekaligus bertahan, mengandalkan insting dan kecepatan untuk menghindari serangan dari berbagai arah.
Kondisi ini semakin memperumit jalannya pertempuran.
Setiap serangan yang dilepaskan bisa berbalik menyerang siapa saja yang lengah.
Tak hanya kekuatan dan kecepatan, kecerdikan dalam membaca gerakan lawan menjadi faktor penentu dalam pertempuran ini.
Pertaruhan Hidup dan Mati di Puncak Gunung Seribu Bunga
Pertarungan ini bukan sekadar adu kekuatan, tetapi juga ujian strategi dan ketangguhan mental.
Setiap jurus penuh risiko, hanya pendekar berpengalaman dengan pengendalian diri tinggi yang mampu bertahan.
Siapa yang akan menang dan berhasil mendapatkan Sin Liong?
Simak terus cuplikan Bu Kek Siansu dalam Menelusuri Jejak Kho Ping Hoo di Radar Madiun! (fin)
Editor : Mizan Ahsani