Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
ANOMAN gagal membedakan siapa Werkudara yang asli. Yang satu memiliki kesaktian luar biasa, sedangkan yang lain mengetahui kelemahan Anoman.
Sementara itu, terjadi gonjang-ganjing di Kahyangan Jonggring Saloka.
Usut punya usut, penyebabnya adalah seorang pertapa di Gunung Jamurdipa, yang tak lain adalah Begawan Tunggul Wulung.
Begawan Tunggul Wulung tengah bertapa untuk memohon Wahyu Ratu.
Mengetahui hal ini, Batara Guru segera memerintahkan Batara Narada untuk turun ke bumi dan menemui Begawan Tunggul Wulung.
Batara Narada pun berangkat bersama Batara Indra, Batara Brama, dan Batara Yamadipati menuju Gunung Jamurdipa.
Setiba di sana, Batara Narada meminta Begawan Tunggul Wulung untuk menghentikan tapa bratanya, karena Wahyu Ratu bukanlah haknya.
Namun, Begawan Tunggul Wulung bersikeras untuk terus bertapa hingga mendapatkan Wahyu Ratu.
Tak ayal, terjadilah perang tanding—tiga dewa melawan satu pertapa sakti.
Batara Indra, Batara Brama, dan Batara Yamadipati bertarung sengit, tetapi mereka tak kuasa menandingi kesaktian Begawan Tunggul Wulung.
Akhirnya, mereka memutuskan kembali ke Kahyangan Suralaya untuk melapor kepada Batara Guru.
Batara Guru pun turun tangan sendiri dan menemui Begawan Tunggul Wulung.
Dengan suara lantang, Batara Guru bertitah. "Wahyu Ratu memang akan turun, tetapi bukan untukmu, melainkan untuk keponakanmu!"
Mendengar hal itu, Begawan Tunggul Wulung pun menerimanya dengan lapang dada.
Baginya, keponakannya juga dianggap seperti anaknya sendiri. Setelah urusan selesai, Batara Guru kembali ke Kahyangan Suralaya.
Tak lama kemudian, Raden Abimanyu tiba di Gunung Jamurdipa dan akhirnya bertemu dengan Begawan Tunggul Wulung.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani