Seri Cerita Tokoh Wayang oleh Ki Damar*
BIMA alias Werkudara adalah putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti.
Namun, karena Prabu Pandu dikutuk akan mati jika berhubungan dengan istrinya, Dewi Kunti menggunakan Aji Kunta Talining Rahsa Cipta Tunggal Tanpa Lawan.
Itu merupakan ilmu yang memungkinkan seorang wanita mengandung tanpa hubungan suami-istri.
Dengan ilmu itu, Dewi Kunti memanggil Batara Bayu, sang Dewa Angin, untuk memberikan anugerah seorang anak.
Namun, saat lahir, anak itu tidak berbentuk bayi manusia biasa, melainkan berupa plasenta besar yang kemudian dikenal dengan sebutan "Bungkus".
Atas saran Begawan Abiyasa, plasenta tersebut diletakkan di Hutan Mandalasara agar bisa menyerap energi alam selama 12 tahun, hingga tiba saatnya untuk "lahir kembali" ke dunia.
Karena khawatir, Batara Bayu pun mengutus seekor gajah sakti bernama Gajah Sena untuk membantu kelahiran anaknya di dunia.
Gajah Sena mencari keberadaan bayi yang dikandung Dewi Kunti, tetapi yang ia temukan hanyalah gundukan plasenta besar.
Karena merasa aneh, ia menyerang plasenta itu berkali-kali, namun plasenta tersebut tetap utuh.
Kesal karena tak kunjung pecah, Gajah Sena akhirnya menggunakan gadingnya untuk membelah plasenta. Saat itulah, seorang pemuda gagah keluar dari dalamnya.
Baca Juga: Mengenal Resi Abiyasa, Tokoh Wayang di Balik Kitab Mahabharata yang Legendaris
Karena sejak dalam kandungan telah menyerap energi alam, pemuda itu langsung memiliki kekuatan luar biasa.
Bahkan, sentuhan pertamanya saja sudah cukup untuk membunuh Gajah Sena.
Sebagai penghormatan, gading Gajah Sena kemudian menyatu dengan kuku pemuda itu, menjadikannya kuku sakti yang disebut Pancanaka.
Batara Bayu kemudian memberi nama anak itu "Bima" atau "Werkudara" dan menjadikannya murid kesayangannya.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani