Seri Cerita Tokoh Wayang oleh Ki Damar*
PRABU Jarasanda adalah putra Prabu Briyadrata dari Kerajaan Magadha.
Ia memiliki nama kecil "Jaka Slewah", karena tubuhnya terbelah menjadi dua bagian—separuh kiri dan separuh kanan yang berbeda.
Kisah kelahirannya berawal dari kesedihan Prabu Briyadrata dan kedua istrinya yang telah lama mendambakan keturunan.
Karena rasa putus asa, Prabu Briyadrata memutuskan untuk bertapa di Sungai Bagiratri bersama kedua istrinya, memohon kepada para dewa agar diberikan anak.
Atas ketulusan mereka, para dewa menganugerahkan sebuah mangga sakti bernama "Pelem Pertangga Jiwa", yang mampu memberikan keturunan.
Namun, karena buahnya hanya satu, sedangkan istrinya ada dua, Prabu Briyadrata membelah mangga itu menjadi dua dan memberikannya masing-masing kepada istrinya.
Tak lama setelahnya, kedua istrinya hamil dan melahirkan secara bersamaan.
Namun, alangkah terkejutnya mereka. Anak yang dilahirkan bukan bayi utuh, melainkan dua potongan tubuh—satu separuh kiri, satu lagi separuh kanan.
Merasa malu dan menganggap ini sebagai kutukan, Prabu Briyadrata membuang kedua potongan bayi itu ke hutan.
Nasib membawa dua potongan bayi itu ditemukan oleh seorang wanita tua bernama Nyai Jara.
Melihat keanehan itu, Nyai Jara mencoba menyatukan kedua potongan bayi tersebut.
Ajaibnya, ketika kedua bagian tubuh itu disatukan, bayi itu hidup kembali layaknya bayi normal.
Karena ia diselamatkan oleh Nyai Jara, bayi itu diberi nama "Jarasanda", yang berarti "disatukan oleh Jara".
Ketika dewasa, Jarasanda merasa ada sesuatu yang janggal dalam dirinya.
Ia bertapa dan mendapatkan wangsit dari Batara Kala, yang mengungkapkan asal-usulnya sebagai putra Prabu Briyadrata.
Ia juga mengetahui bahwa dirinya dibuang karena dianggap sebagai kutukan.
Mendengar hal ini, Jarasanda sangat marah.
Ia mengamuk dan menyerang Kerajaan Magadha, membunuh ayah dan kedua ibunya sebagai balas dendam atas perbuatannya.
Setelah menguasai Magadha, Jarasanda naik tahta dengan gelar "Prabu Jarasanda".
Sebagai simbol kekuasaannya, ia mengambil kulit ayahnya yang telah tewas dan menggunakannya sebagai tambur (gendang besar) di perbatasan Kerajaan Magadha.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani