Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
DI tempat lain, Raja Pandhu Dewanata bersama Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong menghadap Begawan Abyasa di Saptaarga.
Sang raja menyampaikan maksud kedatangannya, yaitu meminta petunjuk mengenai keinginan Dewi Madrim untuk menaiki Lembu Andini, kendaraan Batara Guru.
Mendengar hal ini, Begawan Abyasa memberikan nasihat:
"Permintaan Dewi Madrim itu kelewat batas. Jika benar-benar dilakukan, akan membawa bahaya besar!"
Namun, Begawan Abyasa tidak bisa menghalangi keputusan Pandhu dan menyerahkan segalanya kepada kebijaksanaan sang raja.
Meskipun sudah diperingatkan, Raja Pandhu Dewanata tetap ingin memenuhi permintaan Dewi Madrim.
Ia pun berpamitan dan melanjutkan perjalanannya, dengan Begawan Abyasa mengawasi dari kejauhan.
Mereka menuju Astina, lalu melanjutkan perjalanan ke Suralaya.
Di tengah perjalanan menuju Suralaya, rombongan Pandhu Dewanata bertemu dengan pasukan raksasa dari Turilaya.
Pasukan ini dipimpin oleh Gendhingcaluring, yang telah diperintahkan untuk menghalangi siapa pun yang membantu Ngastina.
Tanpa banyak bicara, pertarungan pun pecah!
Pandhudewanata dan para panakawan bertarung melawan perajurit Turilaya.
Meskipun pertempuran berlangsung sengit, pasukan Gendhingcaluring akhirnya kalah.
Sementara itu, Togog dan Sarawita—yang melihat kekalahan pasukan mereka—segera mundur dan kembali ke Turilaya.
Setelah memenangkan pertempuran, Pandhu Dewanata meneruskan perjalanannya menuju Suralaya.
Sementara itu, di Kahyangan Suralaya, para dewa sedang mengadakan pertemuan.
Batara Narada, Batara Srita, Batara Yama, Batara Aswi, Batara Aswin, dan Lembu Andini menghadap Batara Guru.
Dengan nada tegas, Batara Guru bertanya kepada Batara Aswi dan Batara Aswin. "Kenapa kalian berdua turun ke Ngastina tanpa sepengetahuanku?"
Dengan penuh hormat, Batara Aswi dan Batara Aswin menjawab, "Kami datang ke Ngastina karena panggilan Dewi Madrim, istri Raja Pandhu. Ia sangat menginginkan seorang anak."
Mendengar penjelasan itu, Batara Guru terdiam sejenak, lalu memberikan perintah.
"Jika begitu, kalian harus turun kembali ke Ngastina dan bertanggung jawab atas kelahiran bayi yang akan datang!"
Tanpa menunda waktu, Batara Aswi dan Batara Aswin segera berangkat menuju Astina, untuk memenuhi takdir yang telah ditentukan.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani