Jawa Pos Radar Madiun – Ketika Liu Bwee melempar Swat Hong dalam sebuah permainan, tiba-tiba bocah itu melihat sesuatu di kejauhan.
Ia terkejut dan langsung berteriak.
Dengan penuh semangat, ia memberi tahu ibunya.
Pangeran Han Ti Ong, ayahnya, telah kembali ke Pulau Es.
Mendengar seruan itu, Liu Bwee segera bergegas ke tebing tinggi.
Wanita cantik itu mengarahkan pandangannya ke laut.
Wajahnya berseri-seri, jantungnya berdebar penuh kerinduan.
Benar saja, di kejauhan tampak sebuah perahu kecil meluncur cepat di atas ombak.
Liu Bwee langsung mengenali sosok suaminya.
Han Ti Ong mendayung perahu dengan kekuatan luar biasa secepat ikan hiu.
Namun, kebahagiaan Liu Bwee seketika terganggu.
Matanya menangkap dua sosok lain di dalam perahu.
Salah satunya adalah seorang wanita muda yang cantik.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Kho Ping Hoo Bagian 41, Bocah Lucu Berjuluk Si Angin Salju Itu Merindukan Ayahnya
Kegelisahan Liu Bwee Melihat Wanita Misterius
Perasaan tidak nyaman mulai merayapi hatinya.
Sebagai istri seorang pangeran, ia sadar akan hak suaminya.
Han Ti Ong memiliki kebebasan untuk mengambil selir.
Namun, melihat suaminya pulang dengan wanita muda membuat hatinya gelisah.
Siapa wanita itu?
Apakah dia hanya tamu atau seseorang yang lebih dari itu?
Dugaan Swat Hong dan Kecemburuan Liu Bwee
Begitu mendarat, Swat Hong berlari ke arah ibunya.
Ia bertanya dengan penuh semangat, apakah benar ayahnya telah datang.
Liu Bwee hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari perahu.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Kho Ping Hoo Bagian 44, Ketika Murid Berbakat Bertemu Guru Hebat
Perahu itu semakin mendekat.
Swat Hong tiba-tiba menyadari sesuatu.
“Ayah tidak datang sendiri!” serunya.
Ia melihat seorang wanita muda dan seorang anak laki-laki dalam perahu.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Kho Ping Hoo Bagian 34, Pertaruhan Hidup dan Mati di Gunung Seribu Bunga
Jangan-jangan itu anak dan selir ayahnya?!
Begitu dugaan Swat Hong yang terlontar dari mulut kecilnya.
Kata-kata itu bagaikan pisau yang menusuk hati Liu Bwee.
Ia menoleh ke arah putrinya, merasa ragu dan cemas.
Wanita itu memang tampak terlalu muda untuk menjadi ibu dari anak laki-laki tersebut.
Namun, kecantikannya jelas tak terbantahkan.
Tanpa sadar, Liu Bwee mengungkapkan kecurigaannya.
Begitu menyadari ucapannya, ia merasa menyesal.
Ia tidak ingin Swat Hong terpengaruh oleh kecemburuannya.
Segera, ia menggandeng tangan putrinya.
Dengan nada riang, ia mengajak Swat Hong untuk menyambut Han Ti Ong.
Namun, hatinya tetap dipenuhi tanda tanya.
Siapa sebenarnya wanita itu?
Ah, perasaan rindu itu tiba-tiba terusik rasa cemburu!
Simak terus cuplikan cerita silat Bu Kek Siansu dalam Menelusuri Jejak Kho Ping Hoo di Radar Madiun!. (fin)
Editor : Mizan Ahsani