Jawa Pos Radar Madiun – Naluri tajam beruang raksasa menyelamatkan Sin Liong dan Swat Hong dari bencana.
Tepat setelah mereka berpindah, gunung es yang mereka pijak sebelumnya hancur berkeping.
Namun, ketegangan belum berakhir.
Sin Liong dan Swat Hong kembali berselisih paham.
Baca Juga: Mengupas Cerita Silat Kho Ping Hoo Bagian 67, Permaisuri Minggat, Pusaka Pulau Es Lenyap!
1. Beruang Penyelamat dan Naluri Tajamnya
Sin Liong mengikuti gerakan beruang yang menyeretnya ke tempat aman.
Sesaat kemudian, gunung es yang mereka tinggalkan hancur akibat benturan.
Sin Liong tersadar, beruang itu memiliki naluri luar biasa yang bahkan melebihi manusia.
2. Swat Hong Tidak Senang, Ingin Segera Pergi
Sin Liong berterima kasih kepada beruang yang menyelamatkan mereka.
Swat Hong justru mendesaknya untuk segera meninggalkan tempat itu, merasa situasinya terlalu berbahaya.
Ia menunjukkan bahwa perahu mereka masih terlihat dan belum hanyut.
Baca Juga: Mengupas Cerita Silat Kho Ping Hoo Bagian 69, Dua Anak Manusia Mencari Makna Cinta
3. Sin Liong Menolak Pergi, Ingin Mengobati Beruang
Menyadari beruang itu terluka, Sin Liong bersikeras mencari daun obat.
Swat Hong menganggap tindakan itu sia-sia.
Dia mengingatkan Sin Liong sudah membalas budi dengan mengusir burung nazar sebelumnya.
4. Swat Hong Marah dan Pergi
Swat Hong menganggap Sin Liong lebih peduli pada beruang betina itu daripada dirinya.
Tanpa menunggu jawaban, Swat Hong melompat ke perahu dan mendayung pergi, meninggalkan Sin Liong.
Sin Liong hanya bisa terdiam, menyadari bahwa menegurnya pun tak akan ada gunanya.
Baca Juga: Mengupas Cerita Silat Kho Ping Hoo Bagian 71, Wasiat Terakhir Raja Pulau Es
5. Dilema Sin Liong Ditinggalkan Swat Hong
Beruang menciumi kepala Sin Liong seolah berterima kasih.
Sin Liong menghela napas, berkata pada beruang betapa sulitnya memahami hati wanita.
Ia sadar mengecewakan Swat Hong, tapi tak tega meninggalkan beruang terluka.
Simak cuplikan cerita silat Bu Kek Siansu di Radar Madiun! (fin)
Editor : Mizan Ahsani