Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
SAAT Prabu Basudewa dan para pegawai istana pergi berburu ke hutan, kerajaan ditinggalkan dalam penjagaan Basusena.
Pada suatu malam, Basusena berkeliling istana untuk memastikan keamanan.
Ketika melewati kediaman Angsawati, ia mendengar suara pria yang berada di dalam kamar Angsawati.
Dengan penasaran, Basusena mengintip dan melihat sosok pria yang menyerupai Prabu Basudewa.
Namun, setelah beberapa lama memperhatikan, Basusena mulai menyadari keanehan. Wujud pria itu perlahan berubah menjadi raksasa.
Basusena segera bertindak, menyerang pria tersebut, dan perkelahian pun terjadi.
Dalam pertarungan sengit itu, Basusena menggunakan senjata pusakanya, membuat pria yang menyamar sebagai Prabu Basudewa menampakkan wujud aslinya sebagai Gorawangsa.
Gorawangsa yang kalah dalam pertarungan melarikan diri ke Negara Jadingkik.
Setelah kejadian itu, Basusena bergegas ke hutan untuk melapor kepada Prabu Basudewa.
Ia menyampaikan bahwa Angsawati telah melakukan hubungan terlarang dengan seorang raksasa.
Mendengar laporan tersebut, Prabu Basudewa sangat murka.
Ia memerintahkan Basusena untuk membawa Angsawati ke hutan dan membunuhnya.
Selain itu, hati Angsawati harus diambil sebagai bukti.
Prabu Basudewa memberi perintah, jika hati Angsawati berbau harum, itu berarti bayi dalam kandungannya adalah anak Basudewa.
Namun, jika berbau busuk, maka bayi tersebut adalah hasil hubungan dengan Gorawangsa.
Basusena dengan berat hati menjalankan perintah tersebut. Angsawati dibawa ke tengah hutan, lalu dibunuh dengan penuh kesedihan. Setelah itu, hatinya diambil dan diperiksa.
Saat Basusena mencium hati Angsawati, bau busuk yang menyengat tercium, menegaskan bahwa bayi dalam kandungannya bukan keturunan Prabu Basudewa.
Dengan demikian, pengkhianatan Angsawati terbukti, dan kisah tragisnya berakhir di hutan yang sunyi.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani