Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lakon Wayang Pandawa Sinangsaya Bagian 7-Habis, Menantikan Pecahnya Perang Baratayudha

Ki Damar • Jumat, 21 Maret 2025 | 04:45 WIB
Ilustrasi lakon wayang Pandawa Sinangsaya
Ilustrasi lakon wayang Pandawa Sinangsaya

Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*

DI tengah ketegangan, Karna menatap Arjuna dengan tatapan tajam.

"Adikku Arjuna, jangan terlalu naif. Sadarilah bahwa manusia akan selalu tergoda oleh jabatan dan kekuasaan. Selama mereka menikmati kenikmatan dunia, mereka akan selalu merasa kurang dan meminta lebih. Bukankah kalian juga membangun Amarta untuk suatu saat menyerang Astina?"

Arjuna menggeleng keras.

"Kakang, Amarta bukan untuk menyerang. Kami hanya ingin hidup dalam keadilan dan ketenteraman, bukan menindas seperti yang dilakukan Duryudana dan Sengkuni!"

Karna tersenyum tipis, namun sebelum perdebatan semakin memanas, tiba-tiba Begawan Abyasa muncul di hadapan mereka.

Sang begawan segera bertindak sebagai penengah, menenangkan suasana yang semakin memanas.

"Sudah cukup, cucu-cucuku! Ini bukan waktunya untuk bertarung. Akan tiba masanya kebenaran akan menang. Jangan tergesa-gesa, karena segala sesuatu ada waktunya."

Abyasa membawa Arjuna pergi ke Wukir Retawu untuk menenangkan hati dan pikirannya.

Sementara itu, Anantasena yang terluka parah dibawa ke Hyang Anantaboga.

Di Wukir Retawu, para Pandawa merenungi nasib mereka.

Bagawan Abyasa duduk di hadapan mereka, memberikan wejangan tentang kesabaran dan arti perang Baratayudha.

"Cucu-cucuku, bersabarlah. Akan tiba masanya kalian mendapatkan apa yang menjadi hak kalian. Tapi tidak sekarang. Suatu saat nanti, akan ada perang suci yang menentukan siapa yang benar dan siapa yang harus tumbang. Yang salah akan jatuh, yang menanam akan menuai hasilnya."

Yudhistira mengangguk, wajahnya penuh keteguhan. Bima mengepalkan tangan, siap menunggu waktunya untuk membalas segala penghinaan.

Di tengah ketenangan itu, tiba-tiba pasukan dari Astina datang menyerang Wukir Retawu.

Adipati Karna memimpin pasukan Korawa dengan penuh percaya diri.

Bagawan Abyasa menatap tenang, lalu memberi perintah. "Bima, Arjuna, hadapilah mereka. Ini saatnya membuktikan bahwa Pandawa bukanlah pecundang."

Bima mengamuk di medan perang.

Dengan kekuatan luar biasanya, ia menceraiberaikan pasukan Kurawa. Satu demi satu prajurit Astina berguguran.

Sementara itu, Arjuna berhadapan langsung dengan Adipati Karna.

Dua pemanah sakti saling beradu kehebatan. "Kali ini, aku tidak akan mundur, Kakang Karna!" seru Arjuna.

"Begitu juga aku, Arjuna! Mari kita lihat siapa yang lebih unggul!"

Arjuna melepaskan panah angin. Adipati Karna mencoba bertahan, namun kekuatan panah sakti itu terlalu besar.

Karna terhempas jauh, terbawa angin hingga kembali ke Astina bersama pasukannya.

Pandawa berhasil mempertahankan Wukir Retawu.

Dengan semangat baru, mereka bersiap kembali ke Amarta, untuk menata kembali kerajaan mereka dan menunggu saat yang tepat untuk menghadapi Perang Baratayudha.

Perjalanan mereka masih panjang, tapi kini mereka yakin, kemenangan pasti akan datang pada saatnya.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#bima #Pandawa #arjuna #Lakon #wayang