Jawa Pos Radar Madiun – Ciu-wangwe beserta anak buahnya maupun Gu-Taijin dan pasukannya rata-rata hanya mengandalkan tenaga kasar.
Keberadaan mereka bukan tandingan Swat Hong dan Kwee Lun.
Apalagi, kedua pendekar remaja ini tidak menggempur secara membuta.
Melainkan menggunakan strategi yang cerdas.
1. Runtuhnya Kekuasaan Ciu-wangwe
Swat Hong dan Kwee Lun menyusun strategi matang untuk menggulingkan Ciu-wangwe.
Mereka memaksa Gu-Taijin, pejabat tinggi yang bersekutu dengan Ciu-wangwe, untuk menarik pasukannya.
Para penjahat yang menguasai kota akhirnya kalah dan melarikan diri.
2. Pembebasan Para Budak Wanita
Para wanita yang menjadi korban dipulangkan dan dibekali seratus tail perak.
Leng-sia-bun akhirnya menjadi tempat yang lebih aman dan tenteram.
Penduduk berterima kasih atas perjuangan Swat Hong dan Kwee Lun.
3. Perjalanan ke Kota Raja
Setelah kemenangan besar ini, Swat Hong dan Kwee Lun melanjutkan perjalanan ke kota raja.
Guna mencari ibu Swat Hong, Liu Bwee.
Pengalaman di Leng-sia-bun semakin memperkuat hubungan mereka sebagai sahabat dan pendekar sejati.
4. Swat Hong dan Kwee Lun: Pendekar Muda yang Saling Melengkapi
Swat Hong dikenal sebagai pendekar yang cerdik dan penuh strategi.
Kwee Lun memiliki keberanian luar biasa dan keterampilan bertarung yang hebat.
Kombinasi kecerdikan dan keberanian mereka menjadikan mereka pasangan pendekar yang tangguh.
Mereka berjanji untuk terus berjuang demi kebenaran dan keadilan.
Kemenangan Swat Hong dan Kwee Lun di Leng-sia-bun menjadi awal dari petualangan yang lebih besar.
Nantikan kelanjutan cuplikan cerita silat Bu Kek Siansu di Radar Madiun! (fin)
Editor : Mizan Ahsani