Jawa Pos Radar Madiun - Sin Liong, Swat Hong, Soan Cu, dan Kwee Lun akhirnya berkumpul di Puncak Awan Merah (Tai-hang-san).
Mereka disambut hangat oleh Tee-tok (Pendekar Racun Bumi) didampingi putrinya, Siangkoan Hui.
Para pendekar remaja itu dijamu makan dan minum di markas Pendekar Racun Bumi.
1. Soan Cu Menyadari Cintanya Bertepuk Sebelah Tangan
Soan Cu mulai menyadari bahwa perasaannya terhadap Sin Liong bertepuk sebelah tangan.
Pemuda itu hanya menganggapnya seperti seorang adik.
Tanpa disadari, hatinya mulai tertarik pada Kwee Lun, pendekar gagah yang beberapa kali bertarung dengannya.
2. Bu-tong-pai Dikuasai Sosok Misterius
Tee-tok memberi tahu bahwa Bu-tong-pai kini berada di bawah kendali seorang wanita yang mengaku sebagai Ratu Pulau Es.
Sosok ini dikabarkan bertindak sewenang-wenang dan bahkan bersekutu dengan pemberontak.
Mendengar hal ini, Sin Liong dan Swat Hong langsung terkejut dan merasa harus segera menyelidiki kebenarannya.
Baca Juga: Mengupas Cerita Silat Kho Ping Hoo Bagian 86, Kwat Lin Rebut Tongkat Pusaka dan Kudeta Bu-tong-pai!
3. Perpisahan di Persimpangan Jalan
Sin Liong meminta Soan Cu untuk tetap tinggal sementara waktu, tetapi Soan Cu menolak.
Ia memilih melanjutkan pencarian ayahnya.
Tanpa menoleh, ia pergi, diikuti oleh Kwee Lun yang segera berlari mengejarnya untuk menawarkan bantuan.
Sementara itu, Sin Liong dan Swat Hong meninggalkan Puncak Awan Merah menuju Bu-tong-pai.
Keduanya bertekad mengungkap kebenaran tentang sosok yang menguasai Pulau Es.
4. Tangis Siangkoan Hui Pecah Meratapi Nasibnya
Setelah perpisahan itu, Siangkoan Hui tak kuasa menahan air matanya.
Tee-tok mencoba menenangkan putrinya dan mengingatkan tentang perjodohannya dengan Bu Swi Liang, putra seorang tokoh persilatan.
Sejatinya, Siangkoan Hui belum yakin benar, apakah perasaannya terhadap Sin Liong adalah cinta atau hanya kekaguman semata.
Dengan perasaan sendu, keduanya kembali masuk ke dalam rumah. (fin)
Editor : Mizan Ahsani