Jawa Pos Radar Madiun – Pagi itu, Bu-tong-pai gempar dengan kedatangan dua pendekar besar, Coa Hok dan putranya, Coa Khi.
Mereka menuntut keadilan atas kudeta yang dilakukan The Kwat Lin terhadap Bu-tong-pai.
Kwat Lin mencoba membujuk mereka untuk bergabung, tetapi ayah dan anak ini dengan tegas menolak.
Munculnya Kiam-mo Cai-li, Datuk Sesat Berpayung Pedang
Ketegangan meningkat saat Kiam-mo Cai-li datang.
Akan tetapi, kedatangannya bukan untuk menantang.
Melainkan ingin menguji dan melihat sendiri apakah The Kwat Lin layak memimpin.
The Kwat Lin vs. Ilmu Pedang She Coa
Tanpa senjata, Kwat Lin menghadapi Coa Hok dan Coa Khi, yang mengandalkan ilmu pedang Hok-liong-kiam-sut.
Pendekar ayah dan anak itu melakukan serangan dengan cepat dan mematikan.
Berkat tenaga dalamnya yang luar biasa, The Kwat Lin lincah menghindari.
Pukulan Inti Salju vs. Hok-liong-kiam-sut
Di tengah pertarungan sengit itu, dua mantan murid Bu-tong-pai mencoba mencuri tongkat pusaka.
Kwat Lin segera bertindak dan menumpas mereka dalam hitungan detik.
Saat pertarungan mencapai puncaknya, Coa Hok dan Coa Khi melancarkan jurus pamungkas mereka.
Namun, Kwat Lin justru menyerang balik dengan Pukulan Inti Salju.
Jurus andalan Pulau Es yang mampu membekukan darah lawan.
Dalam sekejap, tubuh Coa Hok dan Coa Khi membiru, lalu roboh tanpa daya.
Dengan kemenangan ini, Kwat Lin semakin mengukuhkan dirinya sebagai pemimpin Bu-tong-pai.
Lantas, apa maksud dari kedatangan Kiam-mo Cai-li ke Bu-tong-pai?
Nantikan kelanjutan cerita silat Bu Kek Siansu hanya di Radar Madiun! (fin)
Editor : Mizan Ahsani