Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
KAHYANGAN kembali geger. Kali ini karena amukan Prabu Udan Mintaya yang berambisi merebut tahta para dewa.
Ia tidak terima jika kaum raksasa terus-menerus dianggap tokoh jahat dalam pandangan para ksatria.
Ia ingin mengubah tatanan hidup manusia—bahwa manusialah makhluk paling mengerikan, bukan raksasa.
“Apakah pasukan sudah siap untuk menyerang, Patih Gelap Ngampar?” tanya Prabu Mintaya dengan suara membahana.
“Segala sesuatunya sudah kami siapkan, Sinuwun,” jawab sang patih.
“Namun, para dewa masih diam membisu tanpa perlawanan. Kita kini hanya tinggal menunggu di depan gerbang Selamatangkep.”
“Aku harus menguasai kahyangan!” ujar Prabu Mintaya penuh tekad. “Aku akan menjadi wakil dari seluruh bangsa raksasa di marcapada! Saatnya membalikkan sejarah. Raksasa akan menjadi simbol kebaikan, dan manusia akan menjadi hamba yang paling hina.”
Patih Gelap Ngampar terlihat bingung. Ia penasaran, apa alasan rajanya menganggap manusia lebih buruk dari raksasa.
Melihat tatapan patihnya, Prabu Mintaya tertawa sinis.
“Kau ingin tahu alasanku? Coba pikirkan, siapa makhluk yang tega memakan sesamanya? Meski tak secara harfiah memakan daging, mereka rela menjatuhkan saudara sendiri, menjelekkan orang lain, menginjak-injak sesamanya demi terlihat tinggi. Itu manusia!”
“Oh begitu, Sinuwun?” tanya sang patih dengan lirih.
“Belum cukup di situ,” lanjut Prabu Mintaya. “Manusia adalah makhluk paling serakah. Mereka tak pernah puas dengan apa yang sudah dimiliki. Mereka ingin menguasai segalanya, meski bukan haknya. Mereka mendewakan diri sendiri, bahkan rela berbohong dan berkhianat demi perutnya.”
Suasana menjadi hening sejenak. Aura kegelapan menyelimuti niat jahat sang Prabu.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani