Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“JIKA kau ingin berdakwah, pergilah ke pasar, Panembahan!” seru Duryudana dengan angkuh.
“Istana ini bukan tempat ceramah, melainkan tempat orang-orang yang memikirkan kesejahteraan negara!”
Resi Suramanik hanya tersenyum tenang. Ia lalu menciptakan sebuah ilusi di hadapan Duryudana. Ilusi tentang siksa Kawah Candradimuka yang mengerikan.
Dalam penglihatan itu, Duryudana melihat dirinya dihantam dengan gada panas, tubuhnya disayat-sayat pedang, hingga organ dalamnya terlihat jelas.
Duryudana menjerit histeris dan seketika jatuh tak sadarkan diri.
“Apa yang kau lakukan, hai Pandita?” tanya Sengkuni gugup melihat junjungannya pingsan.
“Aku tak melakukan apa-apa... seperti yang kalian lihat sendiri,” jawab Resi Suramanik datar.
Sengkuni menatapnya dengan sinis dan curiga. Sementara itu, Duryudana perlahan sadar, tubuhnya basah oleh keringat dingin. Dengan tubuh gemetar, ia memohon ampun kepada sang resi.
“Apa yang harus kulakukan agar Pandawa bisa memaafkan semua kesalahan kami, Panembahan?” tanya Duryudana penuh rasa takut.
“Pandawa adalah manusia yang luhur budi dan besar welas asihnya. Jika engkau datang dengan niat baik dan meminta maaf dengan tulus, mereka pasti memaafkan,” jawab Resi Suramanik.
Duryudana pun segera memerintahkan Resi Durna untuk mencari dan mengundang para Pandawa datang ke Astina.
Namun, kabar itu didengar oleh Patih Sengkuni. Ia sangat kecewa.
Selama ini, semua usahanya untuk memecah belah Pandawa dan Kurawa akan sia-sia jika perdamaian benar-benar terwujud.
Tak ingin rencananya gagal, ia segera pergi ke Dwarawati untuk menemui Prabu Kresna.
Setibanya di sana, Sengkuni menyampaikan maksudnya. Prabu Kresna mendengarkan dengan saksama.
Tak lama kemudian, ia pun mulai menyusun rencana baru. Kali ini justru membantu Sengkuni dalam upayanya.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani