Jawa Pos Radar Madiun - Ouw Sian Kok dan Liu Bwee menghadapi ketegangan yang tak terduga.
Telaga Utara yang awalnya tampak kosong ternyata telah dikepung rapat oleh pasukan An Lu Shan.
Pertempuran sengit dari kedua belah pihak akhirnya tak terelakkan!
1. Dua Pendekar Parobaya Menyerang Tanpa Membunuh
Liu Bwee dan Ouw Sian Kok bertarung hebat tanpa membunuh lawan.
Dua pendekar parobaya ini hanya merobohkan musuh dengan tendangan, dorongan, totokan, atau sabetan pedang yang tidak mematikan.
Tidak ada dendam pribadi dengan An Lu Shan maupun anak buahnya.
2. Cap-pwe Eng-hiong Mengamuk Hebat
Delapan belas pendekar dari Bu-tong-pai bertarung brutal seperti harimau yang haus darah.
Pedang mereka menebas lawan tanpa ampun, menyebabkan luka fatal.
Banyak lawan tewas mengenaskan dengan perut terobek, leher tersayat, atau dada tertembus.
3. Serangan Balasan An Lu Shan
Marah melihat anak buahnya berguguran, An Lu Shan memerintahkan pengawal pribadinya menyerang.
Para tokoh kangouw ikut bertempur, sebagian menghadapi Liu Bwee dan Ouw Sian Kok, sebagian lagi melawan pendekar Bu-tong-pai.
4. Pengepungan dan Pertempuran Sengit
Lebih dari seratus orang pasukan An Lu Shan mengepung para pendekar.
Delapan belas pendekar Bu-tong-pai tetap melawan gagah berani, namun akhirnya gugur satu per satu.
Setiap pendekar Bu-tong setidaknya merobohkan dua musuh sebelum tewas.
Tempat peristirahatan An Lu Shan berubah menjadi lautan darah dan mayat bergelimpangan.
5. Liu Bwee dan Ouw Sian Kok dalam Kepungan
Mereka tetap unggul dalam ilmu silat, mampu merobohkan sekitar dua puluh lawan.
Namun, jumlah musuh yang terus berdatangan membuat mereka terdesak seperti belalang dikeroyok semut.
Nantikan kelanjutan cuplikan cerita silat Bu Kek Siansu di Radar Madiun! (fin)
Editor : Mizan Ahsani