Jawa Pos Radar Madiun - Telaga Utara yang tenang dan rahasia berubah menjadi palagan berdarah.
Para pendekar bertempur sengit demi mempertahankan diri.
Cap-pwe Eng-hiong (delapan belas pendekar sakti) dari Bu-tong-pai bersama Liu Bwee dan Ouw Sian Kok bagaikan sebongkah gula yang dikerumuni ribuan semut!
1. Pengepungan Mendadak
Telaga Utara yang sunyi tiba-tiba dipenuhi pasukan pemberontak.
Para pendekar segera bertempur untuk mempertahankan diri.
Baca Juga: Mengupas Cerita Silat Kho Ping Hoo Bagian 103, Dua Datuk Wanita Sesat Bermufakat Jahat!
2. Duel Tanpa Membunuh
Liu Bwee dan Ouw Sian Kok hanya merobohkan lawan tanpa membunuh.
Keduanya menggunakan jurus andalan dan sabetan pedang yang tidak mematikan.
3. Pertarungan Brutal Pendekar Perguruan Besar
Cap-pwe Eng-hiong bertarung habis-habisan.
Mereka mempertahankan diri sekaligus menyerang tanpa ampun.
Banyak lawan terluka berat dan meregang nyawa ditebas pedang.
Baca Juga: Mengupas Cerita Silat Kho Ping Hoo Bagian 101, Bu-tong-pai Terlibat Aliansi Politik Berbahaya
4. Serangan Balasan Pasukan Pemberontak
Sang pemimpin pemberontak marah dan mengerahkan pasukan elitnya.
Para pendekar dari Bu-tong-pai semakin terkepung dan stau per satu berguguran.
Telaga Utara yang tenang kini menjelma lautan darah.
5. Liu Bwee dan Ouw Sian Kok Terdesak dalam Kepungan
Dikeroyok sejumlah tokoh kangouw yang sakti, Liu Bwee akhirnya dilumpuhkan dan ditawan.
Menyaksikan itu, Ouw Sian Kok meradang dan memperhebat serangan.
Namun, lawan terus berdatangan membuat mereka kewalahan.
Baca Juga: Mengupas Cerita Silat Kho Ping Hoo Bagian 99, Swat Hong Marah, Sin Liong Terjebak di Tengah!
6. Kemunculan Kakek Misterius
Seorang kakek bercaping lebar muncul, ia dikenal sebagai nelayan yang biasa berada di sekitar Telaga Utara.
Suaranya halus namun penuh wibawa, menggetarkan semua orang.
Baca Juga: Mengupas Cerita Silat Kho Ping Hoo Bagian 98, Siangkoan Hui Terpikat Sing Liong, Ada yang Cemburu?
7. Ouw Sian Kok Salah Duga
Ouw Sian Kok yang murka akibat Liu Bwee ditawan semakin gelap mata.
Pendekar dari Pulau Neraka itu mengira kakek misterius itu kaki tangan pemberontak.
Ia langsung menyerang dengan pedang cepat dan mematikan.
Baca Juga: Mengupas Cerita Silat Kho Ping Hoo Bagian 97, Siangkoan Hui Jatuh Cinta, tapi Terikat Janji Lama
8. Kehebatan Kakek Pemancing
Kakek itu tetap tenang, serangan hebat itu hanya ditepis menggunakan pancing bambu dan tali kecil.
Dengan teknik luar biasa, ia melilit dan memutar Ouw Sian Kok di udara seperti ikan yang kena pancing.
9. Permintaan Kakek Misterius & Pembebasan Tawanan
Kakek misterius yang ternyata leluhur Istana Pulau Es itu meminta jenderal pemberontak untuk membebaskan dua pendekar gagah tersebut.
Menyadari kehebatannya, sang jenderal memilih bersikap bersahabat dan mengabulkan permintaan tersebut.
10. Pesan untuk Jenderal An Lu Shan
Sebelum pergi, kakek itu memberikan wejangan kepada jenderal pemberontak tentang siklus kehidupan dan kehancuran.
Setelah menyampaikan pesan tersebut, ia menghilang bersama kedua pendekar, melompati jurang dan lenyap di balik gunung. (fin)
Editor : Mizan Ahsani