Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lakon Wayang Balawa Tandang Bagian 7-Habis, Kita Semua Sama di Hadapan Sang Pencipta

Ki Damar • Minggu, 6 April 2025 | 03:45 WIB
Ilustrasi lakon wayang Balawa Tandang
Ilustrasi lakon wayang Balawa Tandang

Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*

AKHIRNYA, saat yang telah lama ditunggu pun tiba.

Rajamala kembali tewas di tangan Balawa dan, seperti biasa, tubuhnya dibawa oleh kedua kakak kembarnya, Kencakarupa dan Rupakenca, menuju Sendang Watari untuk dihidupkan kembali.

Namun kali ini, sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya terjadi.

Tepat saat tubuh Rajamala diceburkan ke dalam sendang, dari atas tebing melesat panah Bramasta, pusaka agung pemberian Batara Brahma.

Anak panah itu menghujam permukaan air dan seketika sendang kobar api, menyala membakar seluruh permukaan air suci itu.

Keduanya panik.

“Bagaimana ini?! Kenapa sendangnya terbakar?!” seru Kencakarupa panik.

“Kakak, lihat di atas tebing itu! Seseorang memanah sendang kita!” teriak Rupakenca.

Mereka pun segera berlari menuju tebing tempat Wrehatnala berdiri. Namun langkah mereka dihentikan oleh Balawa, yang kini berdiri tegak dengan napas masih berat dan darah membasahi tubuhnya.

“Jangan lari dari tanggung jawab!” hardik Balawa.

“Apa yang kalian tanam, itulah yang harus kalian tuai. Kalianlah sumber malapetaka di Wirata.”

Rupakenca menggeram.

“Jadi kalian bersekongkol rupanya! Baik, akan kubuat kalian mati bersama!”

Namun Balawa sudah berada di puncak amarah dan kekuatannya. Dalam satu gerakan yang menggetarkan tanah, ia mengadu kepala kedua kakak kembar itu satu sama lain. Suara retak terdengar, dan Kencakarupa serta Rupakenca tewas seketika.

Di istana, suasana berubah damai. Prabu Matsapati memanggil Jagal Walakas ke hadapan singgasana.

“Terima kasih atas bantuan anakmu, Jagal Walakas. Aku akan memberikan harta yang banyak kepadamu sebagai balasannya,” ujar sang raja.

Namun Jagal Walakas menunduk, dengan suara yang pelan namun penuh makna.

“Aduh, Sinuwun... sungguh hamba bahagia atas anugerah ini. Tapi... Hamba percaya, Balawa tidak akan senang bila hamba menerima harta sebagai ganjaran. Yang hamba mohonkan hanyalah satu: tegakkan keadilan. Jangan lagi ada perbedaan antara rakyat kecil dan bangsawan. Jangan lagi manusia dipandang dari kasta atau jabatan, sebab di hadapan Sang Pencipta... kita semua sama.”

Prabu Matsapati terdiam sejenak, lalu tersenyum haru.

“Permintaanmu... akan hamba pegang sebagai janji raja.”

Dan sejak hari itu, sejarah Wirata mencatat nama Balawa bukan hanya sebagai jago kasepuhan, tetapi sebagai simbol harga diri, pengabdian anak kepada orang tua, dan keadilan sejati.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun

Editor : Mizan Ahsani
#balawa #Lakon #wayang