Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
"BAGAIMANA maksudmu aku harus bertanggung jawab?" tanya Narasoma penasaran.
"Bapakku yang kucintai, aku adalah ajian hasil tirakat. Saat kau berpuasa, prihatin, dan menahan lapar, di situlah aku merasa kenyang. Namun bila kau selalu kenyang dan bersenang-senang, aku justru kelaparan," keluh Candabirawa.
"Aku sungguh tak tahu, Candabirawa. Dahulu, saat Bapak Bagaspati memberimu padaku, beliau tidak berpesan apa pun. Aku benar-benar tidak tahu."
"Seharusnya kau tahu. Kau adalah seorang raja. Bukankah raja seharusnya gemar bertirakat dan prihatin? Selama ini, apakah kau selalu senang dan terhormat? Pernahkah kau turun melihat rakyatmu yang kelaparan dan kedinginan saat tidur di malam hari?"
Prabu Salya terdiam, merasa malu.
Candabirawa telah menyingkap keegoisannya selama ini.
"Lalu, bagaimana, Candabirawa? Aku tak tahu harus bagaimana agar kau bersedia membantuku," ucap Salya pasrah.
"Hem, kau adalah wadah yang dititipkan oleh Bapak Bagaspati. Aku akan membantumu karena beliau mempercayakan diriku padamu. Tapi bila aku berhadapan dengan orang seperti Bapak Bagaspati, aku tak bisa melawan."
Prabu Salya tersenyum lega mendengar jawaban itu.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani