Jawa Pos Radar Madiun - Sin Liong tumbang setelah dikalahkan secara licik.
Pemuda yang kelak bergelar Bu Kek Siansu itu dibuang hidup-hidup ke sumur penuh ular berbisa di Rawa Bangkai.
Tiga datuk sesat itu ingin menyingkirkan Sin Liong agar tak menghalangi rencana pemberontakan mereka.
1. Sin Liong dilempar ke dalam sumur ular:
The Kwat Lin tanpa ragu melemparkan tubuh murid bekas suaminya itu ke dalam sumur yang penuh ular berbisa.
Tidak terdengar suara dari dalam sumur, sehingga mereka mengira pemuda itu telah mati dalam keadaan pingsan.
2. Pencarian Swat Hong:
The Kwat Lin memerintahkan orang-orangnya untuk mencari Swat Hong.
Meskipun seluruh lorong terowongan dan sekitar Rawa Bangkai dijelajahi, Swat Hong tetap tidak ditemukan.
The Kwat Lin merasa khawatir jika ayah Swat Hong mengetahui kejadian tersebut dan datang membalas dendam.
Ouwyang Cin Cu dan Kiam-mo Cai-li pun ikut merasa gentar setelah mendengar nama Raja Pulau Es.
3. Pertolongan Misterius untuk Swat Hong:
Saat masih pingsan, Swat Hong diselamatkan oleh seorang kakek tua yang ternyata adalah kakek buyutnya, Han Lojin.
Kakek itu membawa Swat Hong keluar dari goa dan menyembuhkannya di hutan.
Setelah siuman, Swat Hong sangat terpukul mendengar kabar bahwa suheng-nya, Sin Liong, telah terbunuh.
Swat Hong bertekad untuk membalaskan kematian Sin Liong dan merebut kembali pusaka Pulau Es dari tangan The Kwat Lin.
4. Perjalanan ke Telaga Utara:
Swat Hong dan Han Lojin berangkat ke utara.
Di sana, Han Lojin mulai melakukan penyelidikan dengan menyamar sebagai kakek tukang pancing di sungai.
Sementara Swat Hong diminta tetap bersembunyi di kuil tua dalam hutan.
Nantikan ulasan cerita silat Bu Kek Siansu selanjutnya di Radar Madiun! (fin)
Editor : Mizan Ahsani