Jawa Pos Radar Madiun – Rombongan kaisar meninggalkan ibu kota secara diam-diam pada malam hari.
Dia mengajak Yang Kui Hui, Perdana Menteri Yang Kok Tiong beserta keluarganya, para thaikam, dan pejabat istana.
Pelarian menuju barat ini dilakukan demi menghindari serbuan pasukan An Lu Shan.
1. Perundingan dengan Orang Tibet
Yang Kok Tiong diam-diam mengadakan perundingan dengan perwakilan Tibet untuk meminta bantuan terhadap pemberontakan.
Kaisar yang tenggelam dalam kedukaan tidak mengetahui kondisi kritis pasukan maupun kegiatan Yang Kok Tiong.
2. Hasutan dari Mata-mata An Lu Shan
Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki, sebagai mata-mata An Lu Shan, menyusup dan menghasut pasukan pengawal untuk memberontak.
Mereka menyebarkan fitnah tentang Yang Kui Hui dan Yang Kok Tiong sebagai pengkhianat dan penyebab kejatuhan kerajaan.
3. Pemberontakan Pasukan Pengawal
Pasukan pengawal yang sudah gelisah tersulut oleh hasutan dan mulai menuntut kematian Yang Kok Tiong.
Kaisar memerintahkan penangkapan Yang Kok Tiong, yang kemudian diserahkan ke tangan massa dan dipukuli hingga tewas.
4. Tuntutan terhadap Yang Kui Hui
Setelah kematian Yang Kok Tiong, pasukan menuntut agar Yang Kui Hui dihukum mati sebagai biang keladi kehancuran.
Bu Swi Nio membangkitkan narasi lama tentang siluman rase Tiat ki yang menjelma selir untuk membakar amarah massa terhadap Yang Kui Hui.
Hasutan Liem Toan Ki dan Bu Swi Nio memicu amarah pasukan dan rakyat yang menuntut agar Yang Kui Hui digantung.
5. Kaisar Kehilangan Yang Kui Hui
Kaisar berusaha menyelamatkan Selir Yang Kui Hui.
Namun, rakyat yang marah terus mendesak.
Yang Kui Hui akhirnya dihukum gantung.
Dalam cerita silat Bu Kek Siansu, Kho Ping Hoo menyebutkan peristiwa tragis ini tercatat dalam sejarah Tiongkok dan diabadikan oleh sastrawan Po Cu I dalam karya berjudul Kesalahan Abadi. (fin)
Editor : Mizan Ahsani