Jawa Pos Radar Madiun - Setelah merebut Lok-yang, An Lu Shan memimpin pasukan inti bergerak ke Tiang-an.
Dia berhasil menaklukkan perlawanan sengit di Lembah Tung Kuan.
Jenderal An Lu Shan akhirnya berhasil menduduki ibu kota.
1. Pendudukan Tiang-an oleh An Lu Shan
Tiang-an, ibu kota kerajaan, berhasil diduduki dengan mudah oleh pasukan An Lu Shan.
Hampir tidak ada perlawanan karena kaisar telah melarikan diri.
Apalagi kaki tangan An Lu Shan (Ouwyang Cin Cu & The Kwat Lin) lebih dulu melemahkan pertahanan lewat sabotase dan kekacauan internal.
Moril pasukan penjaga hancur, sebagian menyerah, lainnya melarikan diri.
2. Kekejaman dan Kekacauan Pasca-Pendudukan
Seperti lazimnya dalam perang, kekalahan membawa penderitaan.
Penjarahan, pemerkosaan, dan pesta pora dilakukan oleh pasukan pemberontak.
An Lu Shan sengaja membiarkan kekacauan agar para pasukannya melampiaskan nafsu dan meredakan gejolak mereka.
Setelah beberapa hari, barulah dikeluarkan larangan terhadap tindakan brutal tersebut.
3. Politik Balas Budi dan Hadiah
An Lu Shan menepati janji pada para pembantu utamanya.
Kedudukan, harta, rumah dan wanita diberikan sebagai imbalan jasa.
Han Bu Ong (putera The Kwat Lin) diangkat menjadi pangeran.
The Kwat Lin menjadi panglima pengawal.
Ouwyang Cin Cu menjadi koksu (penasihat negara).
4. Cita-Cita The Kwat Lin
The Kwat Lin sangat gembira karena puteranya menjadi pangeran.
Namun, cita-citanya tidak berhenti di situ.
Dia mulai memimpikan anaknya kelak menjadi kaisar dan dirinya menjadi ibu suri.
Nantikan ulasan cerita silat Bu Kek Siansu selanjutnya di Radar Madiun! (fin)
Editor : Mizan Ahsani