Jawa Pos Radar Madiun - Usai menaklukkan The Kwat Lin, Swat Hong membopong Soan Cu ke luar ruangan.
Dia terkejut melihat pertempuran masih berkecamuk hebat.
Liu Bwee, ibunya, dan Ouw Sian Kok, ayah Soan Cu, dikepung Ouwyang Cin Cu Bersama ratusan prajurit.
Kedua pendekar gagah itu mengamuk meski tubuhnya telah berlumuran darah.
Sementara Kwee Lun masih bertahan tanpa luka karena dia bukan target utama serangan dari pihak kerajaan.
1. Swat Hong Mengamuk Hebat
Swat Hong meletakkan tubuh Soan Cu lalu melompati barisan pengepung dengan pedang hingga beberapa pengawal roboh.
Gerakannya yang dahsyat membuat lawan mundur ketakutan.
2. Pertemuan Emosional
Ouw Sian Kok berhenti bertarung dan berlutut begitu mendengar suara Soan Cu yang dikiranya telah tewas.
Ia tersentak emosional dan hanya mampu memastikan identitas putrinya dengan suara bergetar.
Soan Cu menangis dalam pelukan sang ayah.
3. Ouw Sian Kok Dihujani Serangan
Ouw Sian Kok pun mencucurkan air mata untuk pertama kalinya.
Soan Cu mengungkapkan kepuasannya bisa bertemu ayahnya, dan Ouw Sian Kok meminta maaf.
Dua golok menyerang dari belakang, tapi Ouw Sian Kok menangkisnya sambil menciumi dahi putrinya.
Soan Cu menghembuskan napas terakhir di pelukan ayahnya dengan tersenyum.
Ouw Sian Kok meraung pilu dan membaringkan jasad putrinya.
4. Ouw Sian Kok Gelap Mata, Melampiaskan Kemarahan
Dipenuhi amarah dan kesedihan, Ouw Sian Kok mengamuk membabi buta.
Ia menebar maut tanpa peduli luka sendiri, hingga pedangnya memerah oleh darah musuh dan darahnya sendiri.
Nantikan ulasan cerita silat Bu Kek Siansu selanjutnya di Radar Madiun! (fin)
Editor : Mizan Ahsani