Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
PAGI itu, Astina menerima tamu istimewa, yakni putra Raden Arjuna yang bernama Raden Wisanggeni.
Kedatangannya membawa maksud penting. Ia mengingatkan uwak-uwaknya, para Kurawa, agar sadar akan bahaya yang akan mengancam mereka jika Kerajaan Astina, yang sejatinya adalah milik para pendahulu Pandawa, tidak segera dikembalikan.
Wisanggeni meminta agar Kurawa mau menerima kenyataan bahwa hak atas Astina sepenuhnya adalah milik Pandawa.
“Berani sekali kau, anak ingusan yang baru lahir, sudah menuntut keadilan kepada kami, hm?” ujar Prabu Duryudana dengan nada meremehkan.
“Apa pun yang terjadi, bahaya atau ancaman sebesar apa pun akan kami hadapi! Apa kau tak tahu bahwa Astina adalah milik Kurawa? Pandawa tak punya hak apa pun. Bagaimana mungkin seorang adik mendapatkan takhta, sedangkan sang kakak menjadi budak? Sadarlah!”
Prabu Duryudana mulai gelisah dengan maksud kedatangan Wisanggeni. Namun Wisanggeni tetap tenang.
“Jika kalian tidak bersedia mengembalikan Astina,” ucapnya dengan nada serius, “aku bisa saja langsung menghancurkan Kurawa hari ini juga.”
Ancaman Wisanggeni tak digubris. Namun tiba-tiba, Prabu Salya menggandeng tangan cucunya itu. Wisanggeni pun penasaran, ingin tahu apa yang hendak disampaikan oleh sang eyang.
Supaya tidak terdengar oleh siapa pun di ruangan itu, Wisanggeni menghentikan waktu dan suasana. Hanya mereka berdua yang masih sadar dalam keheningan beku yang mengelilingi seluruh istana.
“Apa yang ingin kau sampaikan, Eyang?” tanya Wisanggeni sambil menatap lekat wajah Prabu Salya.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani