Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lakon Wayang Wisanggeni Gugat Bagian 5, Ucapan yang Paling Menyesakkan Hati

Ki Damar • Selasa, 15 April 2025 | 23:45 WIB
Ilustrasi lakon wayang Wisanggeni Gugat
Ilustrasi lakon wayang Wisanggeni Gugat

Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*

“HAHA... sungguh ini saat yang tepat untuk menjawab pertanyaan konyol ini,” kata Basukarna sambil tersenyum getir.

“Baiklah, Yayi Prabu. Sebenarnya aku memang memihak adikku Pandawa, terutama Arjuna yang sangat aku sayangi.”

“Alasanku berada di sisimu selama ini hanyalah untuk menjadi kayu bakar agar apimu berkobar besar. Maksudku, aku memang sengaja menyulut terjadinya Baratayuda. Karena aku percaya, kejahatanmu tidak akan pernah sirna kecuali bersama dengan ragamu sendiri.”

Pernyataan itu mengguncang isi hati Duryudana.

Setelah mendengar pengkhianatan dari Sengkuni dan Durna, kini Basukarna pun mengaku selama ini hanya menjadi penggerak api perang. Duryudana syok.

Ia terhuyung dan berlutut lemas. Mahkota yang dikenakannya miring, hampir terjatuh dari kepalanya.

Matanya bergerak ke kanan, menatap adiknya sendiri, Kartamarma, dengan tatapan penuh harap yang mulai memudar.

“Kartamarma... kau adalah adikku sendiri. Apakah ada hal yang kau sembunyikan dariku, kakakmu?” tanyanya dengan suara serak menahan emosi.

Kartamarma tampak gugup, namun ia pun tak kuasa melawan pengaruh ajian Wisanggeni. Kata-kata pun mengalir begitu saja dari bibirnya.

“Duh, Sinuwun... maafkan aku. Sesungguhnya aku sangat senang berada di sisimu, karena aku bisa bertemu dan sering melihat kakak iparku, Banuwati,” jawab Kartamarma jujur.

Duryudana melotot. Ia penasaran, apa sebenarnya yang disukai adiknya dari istrinya sendiri, permaisuri Kerajaan Astina.

“Apa yang kau suka dari istriku?” tanyanya dengan nada mulai meninggi.

“Ah, ayolah Kakak,” ujar Kartamarma tanpa sadar.

“Istrimu begitu cantik. Jangankan diriku, bahkan para dewa pun pasti terpesona melihat Banuwati. Ia wanita tinggi, berparas agung, kulitnya kuning langsat, mulus dan bersinar. Siapa yang tak terpikat oleh kecantikannya?”

Mata Duryudana mulai berkaca-kaca. Dari semua pengakuan yang telah didengarnya hari itu, ucapan Kartamarma adalah yang paling menyesakkan hati.

“Dari semua kejujuran hari ini,” gumamnya lirih, “hanya kata-katamu yang membuat aku benar-benar hancur. Bahkan adikku sendiri... mengkhianatiku.”

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun

Editor : Mizan Ahsani
#Wisanggeni #Lakon #wayang #Duryudana