Jawa Pos Radar Madiun – Setelah berhasil menyelamatkan diri dari istana The Kwat Lin, Swat Hong dan Kwee Lun berlari keluar dari kota raja Tiang-an di tengah kegelapan malam.
Suasana pesta kemenangan membuat penjagaan menjadi longgar.
Hal itu memudahkan kedua pendekar muda ini untuk menyelinap keluar dari benteng perbatasan kota raja tanpa kesulitan berarti.
Saat fajar menyingsing, mereka tiba di hutan jauh dari kota raja dengan napas terengah-engah.
1. Swat Hong Larut dalam Kedukaan
Swat Hong tampak pucat, diam membisu, dan seperti kehilangan kesadaran.
Ia sangat terpukul karena kematian ibunya yang ia tinggalkan begitu saja.
Kwee Lun juga berduka atas kematian Soan Cu, gadis yang dicintainya.
Namun ia menahan perasaannya demi mendampingi dan menghibur Swat Hong.
2. Kwee Lun Berupaya Menenangkan Swat Hong
Swat Hong menangis dan menyesal karena meninggalkan ibunya.
Ia menangis di dada Kwee Lun dan meluapkan rasa putus asanya atas kehilangan orang-orang tercinta.
Kwee Lun menenangkan Swat Hong dengan menyebut bahwa kematian adalah takdir.
Ia mengingatkan bahwa ibu Swat Hong gugur sebagai perempuan gagah.
3. Peringatan tentang Pusaka Pulau Es
Kwee Lun mengingatkan pesan terakhir mendiang Liu Bwee.
Kata-kata Kwee Lun membangkitkan kembali semangat Swat Hong.
Ia berterima kasih dan mulai sadar akan tanggung jawabnya sebagai puteri Pulau Es.
4. Perpisahan Dua Pendekar Remaja
Kwee Lun mengajak Swat Hong mencari Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki yang telah dititipinya pusaka Pulau Es.
Namun, Swat Hong memutuskan untuk pergi sendiri.
Swat Hong bergegas meninggalkan Kwee Lun yang masih tertegun.
Kwee Lun memutuskan untuk kembali kepada gurunya, Lam-hai Sengjin, di Pulau Kura-kura.
Nantikan ulasan cerita silat Bu Kek Siansu selanjutnya di Radar Madiun! (fin)
Editor : Mizan Ahsani