Seri Cerita Tokoh Wayang oleh Ki Damar*
TERSEBUTLAH seorang pemuda bernama Jaka Jatusmati, anak tunggal dari Nyai Prihatin di Desa Medangkawit.
Suatu hari ia mandi di Telaga Nirmala untuk membuang nasib sial. Namun tiba-tiba, Batara Kala muncul hendak memangsanya karena ia tergolong Sukerta sebagai anak tunggal.
Jaka Jatusmati pun lari sekencang-kencangnya, terus dikejar Batara Kala ke mana pun ia pergi.
Dalam pelariannya, ia melewati berbagai orang yang juga tergolong Sengkala, seperti orang yang memasang atap tanpa menguatkan tiang, merobohkan dandang saat menanak nasi, dan mematahkan cobek saat menggiling bumbu.
Batara Kala tidak memangsa mereka, namun mengutuk agar kehilangan harta benda.
Artinya, menjadi mangsa Batara Kala tak selalu berarti kematian fisik, melainkan juga bisa kehilangan penghidupan.
Akhirnya Jaka Jatusmati sampai di Desa Medangwantu, tempat berlangsungnya pagelaran wayang oleh Ki Dalang Kandabuwana dalam hajatan Buyut Wangkeng.
Ia menyusup ke dalam kelompok gamelan dan ikut menabuh.
Batara Kala yang melihat pertunjukan itu terhibur, namun kembali murka saat mengenali Jaka Jatusmati.
Batara Kala hendak memangsanya, namun teringat pesan Batara Guru, ia meminta senjata Bedama dari Dalang Kandabuwana untuk menyembelih Jaka Jatusmati.
Dalang Kandabuwana bersedia menyerahkan Bedama, dengan syarat Jaka Jatusmati ditukar sebagai gantinya. Batara Kala setuju, dan Jaka Jatusmati akhirnya selamat.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa izin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani