Cerita Silat Original Deni Kurniawan*
DI UFUK barat, Matahari tinggal setengah lingkaran. Enam dewan juri berdiri. Mereka memberi aba-aba tanda dimulainya paruh kedua pertarungan Palagan Lawu Wilis antara Anila Nurani dari Magetan dan Banyu Mangadem dari Pacitan.
Angin berembus kencang dari lereng Gunung Lawu. Suara dedaunan saling bersahutan seperti ikut menyaksikan palagan sore itu. Kali ini, suasana tidak lagi setenang sebelumnya.
Anila menutup mata. Lengannya kembali membentuk pola lingkaran.
Seketika, bola angin yang semula melayang di atas telapak tangannya kini berubah menjadi pusaran, bergerak liar seiring gerak tubuhnya.
Rambut panjangnya yang diikat kuda menari ditiup pusaran angin hasil jurus silat dari daerah elemen angin yang diperagakan.
Di seberang, Banyu Mangadem merentangkan tangan. Sebagian tanah di bawahnya basah.
Tetesan itu lalu membentuk aliran air kecil yang berputar-putar di kakinya.
“Dengar Anila,,” ucap Banyu lirih, “Kita tak sedang bertarung untuk saling menjatuhkan, tapi untuk menunjukkan bahwa dua elemen bisa berdampingan,” lanjutnya.
Anila tersenyum. Tapi bukan senyum kelembutan. Itu senyum ketegasan.
“Jika seperti itu, maka tunjukkanlah kekuatanmu,'' tutur Anila.
''Biarkan rakyat tahu bahwa Magetan dan Pacitan pernah satu akar ilmu silat,” lanjut Anila.
Dua bola energi, satu angin dan satu air, meluncur bersamaan ke tengah arena.
Sinar matahari senja membuat dua bola elemen air dan elemen angin itu berubah warna menjadi keemas-emasan.
Dua bola bertabrakan. Tak ada suara tabrakan apalagi ledakan. Namun, tanah di sekitar bergetar.
Sorak rakyat pecah. Tapi belum ada pemenang. Karena pertarungan antara Anila dan Banyu itu bukan tentang menang kalah seperti pertarungan Agni Dahana dari Ponorogo dan Dewa Madewa dari Kota Madiun.
Pertarungan antara utusan Magetan dan Pacitan merupakan skenario menyatukan kisah lama yang nyaris terlupakan. (*)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan