Cerita Silat Original Deni Kurniawan*
SEPERTI pagi sebelum-sebelumnya, Sarban jadi pembeli pertama di warung makan milik Patmi. Sepiring bubur sayur pecel disodorkan si penjual. Patmi sudah hafal sarapan kesukaan Sarban itu. ''Sudah dengar cerita tentang bentrok anak-anak silat di Madigondo, Magetan, belum Ban?'' tanya Patmi sembari menjatuhkan badan di bangku panjang tempat duduk Sarban.
''Paling bentroknya ya seperti itu-itu saja'' jawab Sarban sambil menyantap bubur dengan kuah sayur gori (nangka muda) bersantan lalu disiram sambal pecel itu.
''Bentroknya sampai mengeluarkan jurus, tidak? Seperti film-film kungfu?'' Sarban bertanya sekenanya.
''Kalau tidak ada, berarti bukan bentrok silat. Tapi bentrok anak muda,'' lanjutnya.
Sadar Sarban tak antusias, Patmi tak melanjutkan pembicaraan.
Dia bangkit dari tempat duduk, meninggalkan Sarban.
Sejurus kemudian, Kaslan datang ke warung. Dia seorang pegawai negeri yang saat itu sedang tidak ngantor.
Padahal, jabatan Kaslan di instansinya tergolong cukup mentereng.
Bisa dibilang, tangan kanannya kepala dinas. Jabatan lumayan prestisius.
Secangkir kopi dipesan oleh Kaslan sambil menggigit sepotong pisang goreng.
Singkat cerita, bentrok dua kelompok perguruan silat di Madigondo jadi tema pembicaraan antara Patmi dan Kaslan.
Patmi mengawali pembicaraan dengan pertanyaan serupa seperti yang dilontarkan ke Sarban.
Kebetulan, Kaslan menjawab belum mengetahui kabar itu.
Dasar doyan gibah, Patmi lantas mencoba menjelaskan apa yang diketahuinya tentang insiden tak patut dicontoh itu.
Mulai lokasi bentrok di jalan raya, melibatkan sejumlah remaja, sampai ketakutan warga yang sempat merekam insiden mencekam itu.
Kaslan serius mendengarkan cerita Patmi. Dia juga sempat disodori handphone yang menunjukkan video bentrokan itu.
''Sebenarnya, pemerintah sudah berupaya semaksimal mungkin mengantisipasi kejadian seperti itu. Tapi, perihal anggaran jadi kendala,'' kata Kaslan.
''Kok jadi ke masalah anggaran, Pak? Ini kan tentang bentrokan,'' ucap Patmi.
''Lololo, semua itu butuh anggaran. Apapun kondisinya, kalau anggaran yang tersedia memadai, semua akan tertangani secara optimal,'' terang Kaslan.
Patmi mengangguk-angguk seolah paham apa yang dijelaskan Kaslan.
Diam-diam Sarban menguping pembicaraan antara Patmi dengan Kaslan.
Lebih tepatnya mendengar. Sebab, obrolan Patmi dan Kaslan kelewat keras.
''Mestinya, biar tidak bentrok, anak-anak silat seperti itu diadu sekalian di kompetisi resmi.
Biar tidak sok-sokan menunjukkan siapa paling kuat,'' ujar Sarban tiba-tiba.
''Nah, menggelar kompetisi itu butuh anggaran,'' ucap Kaslan sambil mengusap-usap dagunya.
Bubur sayur pecel Sarban sudah habis. Kopi milik Kaslan tinggal separuh cangkir.
Lalu lalang anak berangkat sekolah semakin berkurang.
Namun, Kondisi warung masih belum ramai. Cuma ada Patmi, Sarban, dan Kaslan.
Ketiga orang itu kembali masuk obrolan tentang bentrok silat.
Lagi-lagi, Patmi mengawali cerita silat versi pergunjingan warung kopi.
''Sebenarnya, masalahnya apa, kok dua selalu ada kolompok-kelompok di dua perguruan silat itu yang bentrok?'' tanya Patmi.
Sarban dan Kaslan saling pandang lalu menggerakkan bahu bersamaan.
Keduanya tak bisa menjawab pertanyaan Patmi. Tampaknya, banyak yang seperti Sarban dan Kaslan yang tak tahu pasti penyeban bentrok.
''Remaja atau anak muda itu biasanya ikut-ikutan. Satu di kumpulan punya masalah pribadi dengan anak kumpulan berbeda, yang lain ikut-ikutan,'' jelas Sarban.
''Betul, sepakat. Kompetisi pencak resmi di daerah-daerah rawan, perlu digelar. Agar supaya, tidak terjadi ontran-ontran dengan embel-embel pencak silat seperti di Madigondo itu,'' timpal Kaslan.
Patmi seolah bosan dengan poin dari penjelasan Sarban.
Sebab menurut Patmi, terkesan klise. Semua orang dewasa pasti punya pemikiran seperti itu. (*)
*Penulis bekerja di Rradar Madiun
Editor : Deni Kurniawan