Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerita Silat Palagan Lawu Wilis: Muncul Lambang Kuno Leluhur Hutan Gunung Wilis di Awal Pertarungan Ketiga (19)

Deni Kurniawan • Rabu, 23 April 2025 | 04:06 WIB
Ilustrasi cerita silat Palagan Lawu Wilis.
Ilustrasi cerita silat Palagan Lawu Wilis.

Cerita silat original Deni Kurniawan*

UDARA malam mulai menusuk tulang. Orang-orang asli Kota Madiun tak beranjak dari lokasi pelaksanaan Palagan Lawu Wilis. Kendati, utusan daerahnya telah kalah dari Ponorogo. Pun, mereka dari Pacitan yang utusannya mengalah atas Magetan.

Malam sudah larut. Jumlah rakyat yang menyaksikan palagan justru semakin banyak.

Terutama rakyat dari Kabupaten Madiun dan Ngawi. Berbondong-bondong berdatangan.

Tujuannya cuma satu, ingin menyaksikan langsung pertarungan yang kelak menjadi cerita silat melegenda di Bumi Lawu Wilis.

Sesaat setelah pertandingan antara Anila Nurani (Magetan) dengan Banyu Mangadem (Pacitan), dewan juri memerintahkan penjaga menyiapkan penerangan.

Sejumlah obor kini menancap di sudut-sudut dan beberapa sisi arena pertempuran.
Beberapa titik tempat rakyat menyaksikan tak ketinggalan dipasangi.

''Aku sudah tidak sabar kiprah Wisa Prabawa dan Jagat Wira di palagan ini,'' ucap seorang rakyat.

Pucuk dicinta ulam tiba, lonceng pertarungan berbunyi. Dewan juri mempersilakan utusan Ngawi dan Kabupaten Madiun itu maju.

Jagat Wira melangkahkan kaki dengan mantap.

Elemen tanah yang dikuasai membuat rakyat merasakan getaran.

Tampak cekungan tipis di tanah tempat telapak kaki Jagat menapak.

Wisa Prabawa tak kalah membuat rakyat terkesima dengan ilmu silat elemen perak yang dikuasainya.

Suara-suara takjub terdengar saling bersahutan dari kerumunan rakyat.

Semakin keras sesaat setelah Wisa menanggalkan baju silat berwarna hitam yang dikenakan.

Muncul pola menyerupai akar tanaman di punggungnya.

Pola tersebut lantas memancarkan cahaya perak yang lembut namun menyimpan keganasan.

''Itu lambang kuno leluhur hutan Gunung Wilis, semoga Wisa Prabawa baik-baik saja,'' ujar seorang rakyat Kabupaten Madiun.

Yang tampaknya, seseorang itu memahami suatu hal penting tentang lambang di punggung Wisa Prawaba.

Kedua utusan itu kini sudah siap menuliskan cerita silat atas namanya masing-masing serta kehormatan daerah.

Sebuah kisah yang bertunas lewat pertarungan ketiga Palagan Lawu Wilis. (*)

*Penulis bekerja di Radar Madiun

Editor : Deni Kurniawan
#Cerita Silat #Wisa Prabawa #ngawi #madiun #Palagan Lawu Wilis #Jagat Wira