Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lakon Wayang Niken Pindri Bagian 4, Izinkan Aku ke Tegal Kurusetra!

Ki Damar • Kamis, 24 April 2025 | 02:15 WIB
Ilustrasi lakon wayang Niken Pindri
Ilustrasi lakon wayang Niken Pindri

Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*

“ANAKKU,” ucap Nyi Ruminta lirih, “sebagai rakyat kecil, kita hanya bisa menurut atas kebijakan para pemimpin. Kita hidup di atas tanah milik raja, dan berharap kepada kebijaksanaan mereka yang membawa kita dalam kesejahteraan.”

Namun Niken Pindri menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca.

“Ibu… apakah perang adalah jembatan menuju kesejahteraan? Apakah perang adalah jalan menuju kemuliaan? Bila benar itu jalan kebaikan… mengapa harus menuntut darah rakyat kecil sebagai syaratnya?”

Nyi Ruminta tidak langsung menjawab. Ia hanya mengelus rambut putrinya, mencoba menyeka keresahan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Baca Juga: Jejak Mbok Yem di Puncak Gunung Lawu: 40 Tahun Menemani Pendaki dari Warung Tertinggi di Indonesia

“Ini hari ke sembilan belas,” bisiknya kemudian, “namun terasa seperti bertahun-tahun bagi kita. Penantian ini membeku di setiap detak.”

Niken Pindri menggenggam tangan ibunya.

“Ibu… izinkan aku pergi ke Kurusetra. Aku tak bisa duduk diam. Aku akan mencari kabar tentang ayah dan adik. Meskipun mereka bukan siapa-siapa, aku yakin para Pandawa tidak akan melupakan mereka. Aku hanya ingin ibu tenang.”

Nyi Ruminta menatap wajah putrinya lama, antara haru dan cemas. Lalu dengan helaan napas panjang ia mengangguk pelan.

“Baiklah, anakku. Ibu tidak bisa menghalangimu. Tapi berjanjilah… jangan terlalu lama di sana. Bila kau telah bertemu ayahmu dan adikmu, sampaikan salamku. Ingatkan mereka untuk berhati-hati… dan segeralah pulang.”

Baca Juga: Waspada Batu Empedu! Simak Gejala, Jenis, dan Daftar Makanan yang Harus Dihindari

Niken Pindri mengangguk cepat. Namun kata-kata ibunya belum selesai. Suaranya tertahan. Bibirnya gemetar.

“Dan bila…” Nyi Ruminta terdiam sejenak, memejamkan mata menahan gejolak dalam dada.

“Dan bila terjadi sesuatu yang buruk pada ayah dan adikmu… maka segeralah pulang dan beritahu Ibu. Agar Ibu bisa berlari menjemput mereka—entah itu dalam pelukan atau hanya nama di batu nisan.”

Tangis keduanya pecah. Dua perempuan dari desa Manahilan itu larut dalam pelukan dan air mata—mengikatkan harapan dan doa di tengah gelapnya bayang-bayang perang.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun

Editor : Mizan Ahsani
#Lakon #wayang #Niken