Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lakon Wayang Niken Pindri Bagian 5, Kabar yang Dibawa Para Ksatria Pandawa

Ki Damar • Kamis, 24 April 2025 | 02:45 WIB
Ilustrasi lakon wayang Niken Pindri
Ilustrasi lakon wayang Niken Pindri

Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*

PAGI hari menyingkap langit kelabu. Sang Surya perlahan menampakkan sinarnya dari balik bayang reranting.

Niken Pindri telah melangkah pergi dari Desa Manahilan sejak fajar pertama menyapa.

Langkahnya tergesa, hatinya penuh harap, semoga perjalanan itu membawanya pada kabar baik—bertemu ayah dan adiknya yang terlibat dalam perang besar di Kurusetra.

Belum jauh langkahnya, suara derap roda kereta dan deru kaki kuda terdengar dari kejauhan.

Niken Pindri menoleh, tampak rombongan besar prajurit melintas. Sebagian besar di antara mereka tertatih, wajah mereka kusut oleh debu dan luka. Namun tetap, barisan itu rapi, gagah, dan membanggakan.

Ia berlari mendekat, menahan seorang prajurit yang tampak kelelahan namun masih berdiri tegap.

“Apakah ini rombongan Pandawa?” tanya Niken Pindri dengan napas terengah.

“Benar, kami dari pihak Pandawa,” jawab sang prajurit. “Kami hendak pulang ke Wirata, karena perang telah usai dan kemenangan ada di pihak kami. Ada keperluan apa, wahai gadis?”

Niken Pindri memandangnya penuh harap.

“Apakah Tuan mengenal seseorang bernama Demang Ijrapa dan seorang pemuda bernama Bambang Rawan? Mereka adalah ayah dan adikku yang turut dalam barisan perang ini.”

Prajurit itu menunduk sejenak, seperti mencoba mengingat nama-nama tersebut.

“Maaf, aku tak mengenalnya. Aku hanyalah prajurit muda dari Wirata. Baru bergabung, dan langsung dikirim bertempur. Aku tak sempat mengenal semua nama.”

Wajah Niken Pindri meredup. Harapannya luntur sedikit demi sedikit.

Namun, dari kerumunan barisan, tampak seorang tokoh gagah berotot besar berhenti. Dialah Raden Bima. Ia memicingkan mata memandang gadis itu.

“Aku seperti mengenalmu,” katanya lirih, namun tegas.

Niken Pindri segera merunduk dan memberi hormat. “Ampun, Gusti… aku adalah Niken Pindri, putri dari Demang Ijrapa dan Nyi Ruminta dari Desa Manahilan.”

Raden Bima terdiam sejenak. Ingatannya melayang pada peristiwa lama di Kerajaan Ekacakra. “Oh… kau rupanya,” ucapnya, suara dalamnya mengandung nada iba. “Apa yang membuatmu mencariku di tengah perjalanan ini?”

Sebelum sempat Niken menjawab, langkah Bima yang terhenti membuat pasukan turut berhenti.

Prabu Puntadewa, yang mendengar keributan kecil di barisan depan, ikut keluar dari keretanya. Ia melihat Niken Pindri dan Bima berdiri dalam percakapan yang tampak mengandung kesedihan.

“Ada apa gerangan, Bima?” tanya Puntadewa.

Niken Pindri pun segera menyambut, menyatukan tangan di dada dan menunduk hormat.

“Duh Gusti… hamba datang membawa harapan dari ibu hamba, Nyi Ruminta. Kami sangat cemas dan ingin tahu keadaan ayah hamba, Demang Ijrapa, dan adik hamba, Bambang Rawan, yang ikut serta dalam barisan perang Paduka…”

Bima menunduk. Sorot matanya meredup. Wajahnya yang biasa garang kini tampak berat menyimpan kabar.

Ia tak menjawab seketika, hanya terdiam dengan rahang mengeras. Niken Pindri mulai resah, hatinya tersayat ketakutan.

Puntadewa melangkah maju, menyentuh bahu gadis itu. “Pindri, duduklah sebentar. Kau pasti telah berjalan sangat jauh dari Manahilan. Minumlah dulu, tenangkan hatimu…”

Niken Pindri menurut, namun hatinya tetap gemetar menanti jawaban. Ia tahu, kabar yang dibawa oleh diamnya para ksatria itu tak semudah dibungkus harapan.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun

Editor : Mizan Ahsani
#Puntadewa #bima #Pandawa #Lakon #wayang