Jawa Pos Radar Madiun – Setelah berpisah dengan Kwee Lun, Sin Liong dan Swat Hong melanjutkan perjalanan dan berhenti sejenak di bawah pohon besar di lereng bukit.
Swat Hong baru menyadari selama berjalan dengan Sin Liong hatinya merasa tenang dan damai.
Perasaan itu begitu dalam, lebih dari sekadar cinta.
Meskipun, selama perjalanan yang ditempuh, Sin Liong jarang berbicara.
1. Perjalanan Menuju Hoa-san-pai
Setelah berkali-kali ragu mengutarakannya, Swat Hong akhirnya memberanikan diri bertanya tentang tujuan perjalanan mereka.
Sin Liong tersenyum lembut, seolah sudah mengetahui isi hatinya.
Sin Liong dan Swat Hong melanjutkan perjalanan menuju Hoa-san.
Sin Liong yakin bahwa Liem Toan Ki berada di sana karena Liem Toan Ki terhitung masih murid dari Hoa-san-pai.
Keyakinan Sin Liong ini membuat Swat Hong heran sekaligus kagum.
Baca Juga: Mengupas Cerita Silat Kho Ping Hoo Bagian 170, Gawat! Swat Hong Dicekoki Minuman Perampas Semangat
2. Bagaimana Jika Pendapat Sin Liong Salah?
Swat Hong belum sepenuhnya yakin dengan arah tujuan yang kini ditempuhnya.
Dia pun sudah menaruh curiga dengan Liem Soan Ki dan Swi Nio yang dititipi pusaka.
Sin Liong dengan tenang dan bijaksana menasihati jika tidak perlu membayangkan hal-hal yang belum terjadi.
Agar yang dijalani saat ini tidak terjebak dalam kenangan atau kekhawatiran masa depan.
3. Swat Hong Sadari Perubahan Diri Sin Liong
Setelah mendengarkan nasihat Sin Liong, Swat Hong menyadari bahwa Sin Liong kini telah banyak berubah.
Suhengnya kini menjadi sosok yang lebih bijaksana.
Hal itu membuatnya semakin tenang dalam menghadapi perasaan dan kekhawatirannya.
Setelah cukup beristirahat, keduanya melanjutkan perjalanan menuju Hoa-san-pai.
Nantikan ulasan cerita silat Bu Kek Siansu selanjutnya di Radar Madiun! (fin)
Editor : Mizan Ahsani