Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
TAWA Batari Durga menggema menggetarkan hutan. Sengkuni gemetar.
“Sawageselikur dina! Kau yang memanggilku, Sengkuni? Jangan sembarangan memanggilku! Dan kau tahu, tidak ada yang gratis!” hardiknya.
“Inggih, Hyang Batari. Hamba tahu. Sungguh, hamba sangat berharap cucu hamba, Lesmana, bisa menerima Wahyu Cakraningrat. Maka hamba memohon pertolongan Paduka,” jawab Sengkuni penuh hormat.
“Haha! Wahyu Cakraningrat adalah Batara Wulandrema. Aku cukup akrab dengannya. Ya, aku bisa membantumu.”
“Syukur, bila begitu, Hyang Batari.”
Sengkuni merasa lega.
Namun Durga belum selesai.
“Tapi ingat, jer basuki mawa bea. Semua keinginan butuh pengorbanan. Kesepakatannya begini: jika kelak terjadi perang besar dan Kurawa tewas, maka kalian semua harus menjadi pengikutku.”
“Permintaan ini bukan main-main. Wahyu Cakraningrat menentukan siapa yang akan menjadi Raja Besar. Maka pengorbanan yang kau berikan juga harus besar. Itulah keadilan!” ujar Batari Premoni, gelar lain Durga.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani