Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“INGAT, cucuku,” pesan Sengkuni.
“Setelah menerima wahyu, kau tidak boleh tergoda wanita selama 40 hari. Kalau kau tergoda, wahyu akan lepas. Jangan pula sombong. Mendapatkan kemuliaan itu mudah, menjaga itulah yang sulit!”
“Jangan khawatir, Eyang. Aku akan baik-baik saja. Nasib Kurawa akan cerah setelah ini!” jawab Lesmana.
Namun tak lama kemudian, muncullah seorang wanita cantik jelita. Tinggi semampai, berkulit putih bercahaya, bermata bening, dan bibir merah merona.
“Duh Raden, perkenalkan aku Endang Werdiningsih. Seorang janda yang belum dikaruniai anak. Suamiku baru saja meninggal. Apakah Paduka sudi menjadi suamiku? Aku butuh kasih sayang, Raden...”
“Wah, kamu datang di saat yang tepat! Aku ini putra mahkota Astina. Kau akan jadi prameswariku! Tak mengapa kau janda, yang penting kau cantik! Haha!” Lesmana tertawa, lalu memegang tangan Werdiningsih.
Detik itu juga, wahyu oncat—melayang keluar dari tubuh Lesmana. Ia pingsan tak sadarkan diri.
Batara Wulandrema berseru, “Lihatlah, Durna! Lihat, Sengkuni! Inikah orang yang kalian harapkan? Manusia pengumbar hawa nafsu? Sombong? Tak pantas menjadi wadahku!”
Sengkuni dan Durna tertunduk malu. Mereka membawa Lesmana pulang ke Astina.
Dan Batara Wulandrema kembali mencari satria sejati yang layak menjadi wadah wahyu Cakraningrat.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani