Seri Cerita Tokoh Wayang oleh Ki Damar*
PRABU Palindriya memerintahkan Patih Selacala untuk memimpin pasukan Medang Kamulan menyerang Kerajaan Gilingaya.
Sebagai bekal, Prabu Palindriya juga meminjamkan busur Bajra dan panah Herawana kepada Patih Selacala, agar dapat mengalahkan Prabu Sintawaka.
Serangan itu disambut dengan kekuatan penuh oleh Prabu Sintawaka dan Patih Anindyamantri.
Terjadilah pertempuran besar. Dalam pertempuran itu, pihak Gilingaya mengalami kekalahan telak.
Patih Anindyamantri tewas di tangan Patih Selacala. Melihat menteri utamanya gugur, Prabu Sintawaka pun mengamuk dan mengerahkan segenap kesaktiannya.
Baca Juga: Lakon Wayang Lesmana Mandrakumara Wurung Bagian 1, Bekal Sejati yang Dimaksud Sengkuni
Patih Selacala tidak tinggal diam. Ia membalas dengan melepaskan panah Herawana.
Seketika, tubuh Prabu Sintawaka terlempar ke angkasa dan jatuh di Hutan Nastuti.
Walaupun terkena panah pusaka, Prabu Sintawaka tidak mati. Sebaliknya, ia kembali ke wujud aslinya sebagai seorang wanita, yakni Dewi Basundari.
Ia lalu bersembunyi di dalam hutan untuk menghindari kejaran pasukan Medang Kamulan.
Tanpa disadarinya, Dewi Basundari telah lupa bahwa dahulu para dewata pernah mengubahnya menjadi laki-laki, agar lebih leluasa mencari putranya yang hilang, Jaka Wudug.
Baca Juga: Jaka Wudug Dirawat Sang Bunda Seorang Diri, Ternyata Ibunya Bukan Tokoh Wayang Sembarangan
Ia baru akan kembali menjadi wanita setelah bertemu dengan sang putra.
Tak disangka, Jaka Wudug kini telah tumbuh menjadi Patih Selacala, yang juga menyandang nama lain yakni Raden Raditya.
Pertarungan yang baru saja terjadi ternyata menjadi jalan takdir, mengembalikan wujud Prabu Sintawaka menjadi Dewi Basundari. Namun, Dewi Basundari tidak menyadari hal itu.
Setelah kekalahan itu, Basundari membangun pondok di dalam Hutan Nastuti dan melanjutkan pertapaan, berharap suatu saat dapat bertemu dengan putranya yang telah lama hilang.
Kelak, Patih Selacala akan naik tahta di Gilingaya dan bergelar Prabu Watugunung. Nama kerajaan pun diubah, dari Gilingaya menjadi Gilingwesi.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani