Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Mengupas Cerita Silat Kho Ping Hoo Bagian 191, Tiga Pendekar Gagah Dukung Hoa-san-pai Siap Bertarung Melawan Kubu Thian-tok!  

AA Arsyadani • Selasa, 29 April 2025 | 16:45 WIB
Para pendekar dari berbagai golongan mendatangi markas Hoa-san-pai.
Para pendekar dari berbagai golongan mendatangi markas Hoa-san-pai.

Jawa Pos Radar Madiun – Ketegangan di markas Hoa-san-pai memuncak!

Thian-tok tiba-tiba membentak agar semua orang menahan diri.

Namun, belum sempat suasana mereda, Pek Sim Tojin lebih dulu mengeluarkan suara keras dengan sikap yang begitu berwibawa dan penuh wibawa.

Ketua Hoa-san-pai itu mengecam tindakan para pendekar yang dinilainya sudah melampaui batas.

Mereka memperebutkan pusaka milik orang lain dan tidak menghargai kedudukan Hoa-san-pai sebagai tuan rumah.

Ketua Hoa-san-pai Ambil Sikap Tegas

Pek Sim Tojin menyatakan dengan tegas bahwa ia tidak akan mengizinkan siapa pun bertindak semena-mena atau menggunakan kekerasan di padepokannya.

Ucapan Pek Sim Tojin membangkitkan semangat beberapa pendekar yang masih menjunjung keadilan.

Tee-tok Siangkoan Houw dari Tai-hang-san menyambut dengan suara lantang.

Dua pendekar tua itu menegaskan bahwa ia bukan orang tak tahu malu dan tidak akan membiarkan siapa pun menjamah pusaka yang merupakan milik Nona Han Swat Hong.

Ia kemudian melompat ke bagian depan ruangan, berdiri di sisi Liem Toan Ki dan Swi Nio dengan sikap gagah berani.

Para Pendekar Gagah Ikut Membela Hoa-san-pai

Tak lama, suara tawa terdengar dari Lam-hai Sengjin, guru dari Kwee Lun.

Ia menyatakan bahwa ucapan Tee-tok membuatnya merasa malu karena sebagai orang tua, ia tidak sepatutnya ikut memperebutkan pusaka milik orang lain.

Dengan langkah tenang dan berwibawa, tosu berpenampilan halus itu ikut maju ke depan, mendampingi Tee-tok sambil memegang kipas di tangan kiri dan hudtim (kebutan pertapa) di tangan kanan.

Sastrawan Suling Perak Pasang Badan

Dukungan datang pula dari seorang tokoh lain dengan gerakan secepat bayangan, diiringi suara halus yang melengking.

Ia adalah Gin-siauw Siucai, sastrawan bersenjata suling perak dan mauwpit.

Dia tidak sudi membiarkan pendekar-pendekar tak tahu malu merampas pusaka milik orang lain.

Banyak Mendapat Perlawanan, Thian-tok Geram

Melihat perkembangan itu, Thian-tok tertawa terbahak.

Namun, di balik tawanya tersimpan kemarahan.

Ia merasa geram karena bekas sute-nya sendiri, Tee-tok, justru tampil membela pihak Hoa-san-pai dan muridnya yang membawa pusaka yang sejak lama diincarnya.

Dengan nada mengejek, ia menantang para pendekar yang disebutnya sok Budiman.

Dia ingin melihat sejauh mana kemampuan para pendekar yang berani menentangnya tersebut.

Tanpa banyak bicara lagi, Thian-tok langsung melompat maju.

Diikuti oleh sejumlah tokoh kangouw lainnya.

Ketegangan pun semakin memuncak.

Tampaknya bentrokan hebat antara para pendekar Hoa-san-pai, yang kini mendapat dukungan dari tiga tokoh besar itu, melawan para pendekar yang bernafsu merebut pusaka, sulit terelakkan lagi.

Nantikan ulasan cerita silat Bu Kek Siansu selanjutnya di Radar Madiun! (fin)

 

 

Editor : Mizan Ahsani
#Bu Kek Siansu #Cerita Silat #Kho Ping Hoo