Jawa Pos Radar Madiun - Setelah pertempuran sengit melawan para tokoh kangouw, Sin Liong tetap berdiri tegak meski pakaiannya hancur.
Swat Hong yang berlari menghampirinya langsung memeluk sang suheng dengan penuh kekhawatiran.
Namun Sin Liong hanya tersenyum, menegaskan bahwa kerusakan pakaian tak sebanding dengan kerusakan akhlak, yang bisa mendatangkan malapetaka.
Melihat perubahan sikap dan kekuatan suheng-nya, Swat Hong menyadari bahwa Sin Liong bukan lagi sosok yang sama seperti dulu.
Bahkan, Pangeran Han Ti Ong, mendiang ayah Swat Hong, tidak pernah menunjukkan ilmu sehebat itu.
Sin Liong menyatakan bahwa ilmu yang berdasarkan kekerasan hanya akan membawa kehancuran.
Ketika Swat Hong meminta diajari ilmu tersebut, Sin Liong hanya mengajaknya untuk melanjutkan perjalanan.
Dalam sekejap, ia membawa Swat Hong melesat terbang secepat burung elang.
Kehebatan ini kian membuat Swat Hong yakin bahwa suheng-nya kini telah mencapai kesaktian seorang manusia dewa!
Seratus tahun kemudian, dunia persilatan mengenang kisah tentang seorang tokoh legendaris yang dikenal sebagai Bu Kek Siansu.
Ia digambarkan sebagai seorang lelaki tua sederhana, penuh cinta kasih kepada sesama umat manusia.
Bu Kek Siansu adalah anak ajaib (Sin-tong) bernama Sin Liong.
Setelah menghilang bersama sumoi-nya, Swat Hong, Sin Liong menetap di Pulau Es dan tidak pernah lagi muncul di dunia ramai.
Sebagai seorang yang hidup tanpa pamrih, Bu Kek Siansu tidak pernah menonjolkan diri.
Ia hanya sesekali muncul di antara masyarakat, digerakkan semata-mata oleh cinta kasih.
Kisah tentang dirinya akan berlanjut dalam cerita lain berjudul Suling Emas. (fin)
Editor : Mizan Ahsani