Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
PARA hulubalang hampir kehilangan kesabaran, apalagi para pengawal kerajaan. Rasanya mereka ingin segera menyeret dan merajang tubuh Ki Angga.
Namun, tak satu pun anggota sidang berani berbicara.
Sunyi senyap. Semua menunduk, karena dalam hati kecil, mereka membenarkan ucapan Ki Angga.
Sri Rama yang bijaksana tidak percaya pada istilah “kebetulan”.
Maka, ia menarik kesimpulan bahwa ucapan Ki Angga mungkin benar. Di dunia ini, tak ada yang benar-benar kebetulan. Segalanya telah diatur oleh Tuhan.
Dengan lemas, Sri Rama meninggalkan ruang sidang dan masuk ke dalam istana.
“Bubarkan pasewakan. Aku hendak beristirahat,” titahnya.
Para menteri menjadi gugup. Ruangan riuh rendah oleh bisik-bisik, namun tak seorang pun berani bersuara lantang.
“Oh Dewa...! Mengapa semua ini harus terjadi? Ya Tuhan, berilah kami petunjuk,” ratap Sri Rama sambil merangkul Laksmana dan meneteskan air mata.
“Sungguh tak kusangka, malapetaka justru menimpa diriku. Selama ini ternyata aku telah menjadi bahan ejekan dan tertawaan rakyat Ayodya. Aku benar-benar telah memberi contoh yang buruk kepada mereka.”
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani