Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
NYI Angga melanjutkan ceritanya sambil menunduk.
“Apapun alasan hamba, suami hamba tetap tidak percaya. Ia memaki dan menuduh hamba berselingkuh, menyeleweng, dan tidak suci lagi. Bahkan ia berkata, ‘Ki Angga bukanlah Sri Rama, yang begitu saja menerima kembali permaisurinya, Sinta, yang bertahun-tahun disekap dalam sangkar mas Rahwana.’ Seorang lelaki sejati tidak demikian. Bila istrinya pergi tanpa izin dan menginap semalam saja, ia sudah pantas dijatuhi ‘talak tiga’.” Demikian pengaduan Nyi Angga.
“Hai Ki Angga, benarkah kata istrimu?” tanya Sri Rama.
“Benar, Paduka. Maafkan jika kata-kata hamba tadi menyinggung. Hamba terlalu emosi,” jawab Ki Angga singkat.
“Namun, ampun, Yang Mulia. Rakyat Ayodya pun telah meragukan kesucian Gusti Sinta.”
“Bukankah kesucian Sinta telah dibuktikan melalui ujian api?” bantah Sri Rama.
“Benar, Yang Mulia. Tetapi tak satu pun rakyat Ayodya menyaksikannya. Gusti Laksmana adalah adik Paduka. Sementara seekor kera tak dapat dijadikan saksi. Belum ada sejarah manusia mempercayai kata-kata seekor kera,” ujar Ki Angga, seakan menegaskan bahwa keadilan harus ditegakkan.
Mendengar jawaban Ki Angga yang berani dan terkesan kurang ajar itu, wajah Sri Rama memerah, seperti tersambar petir di siang bolong.
Hatinya berkecamuk antara marah dan gelisah, seolah diterkam harimau. Dalam hati, ia bergumam.
“Tuhan, dosa apa yang telah hamba lakukan? Mengapa sampai saat ini pun hati ini tak kunjung tenang?”
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani