Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“DUH Kakanda, jangan percaya pada kata-kata orang hina itu,” hibur Laksmana, mencoba menenangkan hati kakaknya.
“Tidak mungkin, Adinda,” sahut Sri Rama.
“Aku percaya pada ucapan Ki dan Nyi Angga. Oleh karena itu, aku memutuskan buanglah Mbakyu-mu, Permaisuri Sinta, ke hutan. Taruhlah ia di tepi Sungai Gangga. Biarlah alam yang menentukan keadilan.”
Rama berkata dengan air mata mengalir. Dalam hatinya, ia sangat berat melakukannya. “Duh Kakanda, perintah itu tak mungkin kulaksanakan,” jawab Laksmana lirih.
“Ooh, Laksmana, Adikku. Jangan membantah. Ini satu-satunya cara yang dapat diterima dan dimengerti rakyat. Laksanakan perintahku, jangan membantah! Aku tahu kau berat melakukannya, tapi tetaplah laksanakan!”
Hati Laksmana remuk redam. Ia harus mengantar Sinta dan meninggalkannya di tepi Sungai Gangga.
Ini adalah konflik moral besar. Sekali lagi, manusia dihadapkan pada pilihan. Tidak memilih pun berarti memilih! Antara mengusir Sinta, atau membiarkan rakyat terus mencurigainya.
Perintah itu segera diberitahukan pada Sinta. Ia menangis pilu karena kesuciannya masih terus dipertanyakan.
Bahkan rakyat percaya bahwa Sinta telah ternoda oleh Dasamuka. Itulah sebabnya mereka tak bisa menerima seorang permaisuri yang dianggap sudah tak suci.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun
---
Part 5
Laksmana menunduk lesu, mengantar kakak iparnya dengan hati sedih.
“Kakanda Dewi, mohon ampun... kita telah sampai di tempat tujuan,” ucapnya dengan suara bergetar dan air mata berlinang. “Atas titah Sri Rama, kini Kakanda Dewi dibuang ke hutan tepi Sungai Gangga, karena rakyat Ayodya mencurigai dan meragukan kesucianmu.”
Mendengar itu, Dewi Sinta menjerit dan menangis. Alam seakan turut merasakan penderitaannya. Dunia menjadi gelap gulita. Petir menyambar-nyambar, angin menderu, laut mengamuk dengan ombak setinggi gunung. Hujan turun deras seketika. Terjadilah “gara-gara”.
“Sungguh, ujian ini tak henti mendatangiku. Betapa besar kasih-Mu padaku, Tuhan. Apakah tak ada keadilan? Apakah Engkau pun akan meninggalkanku? Bukankah aku telah cukup menderita? Aku hanya wanita lemah yang mengharap pertolongan-Mu,” rintih Sinta dalam doa yang tulus.
Dewi Sinta jatuh terduduk, meratapi nasibnya yang malang. Laksmana tak sanggup menahan tangis. Ia segera meloncat ke atas kudanya dan memacu cepat masuk ke dalam hutan, kembali ke Ayodya. “Gara-gara” ini menjadi pertanda kedatangan Resi Walmiki.
---
Part 6
Resi Walmiki datang untuk menjemput Dewi Sinta yang tengah dirundung malapetaka. Perbawa sang resi mampu menenangkan badai. Namun tubuh Sinta telah basah kuyup, terbenam dalam lumpur akibat banjir.
Saat sadar dan melihat Resi Walmiki, Sinta terkejut. Ia mengenali beliau sebagai guru dari Sri Rama. Tanpa banyak kata, Resi Walmiki menolong dan mengasuh Sinta yang saat itu tengah hamil, seperti anaknya sendiri.
“Duh Sang Panembahan... kau tahu sendiri perilaku Kakanda Rama Wijaya. Apakah kau masih yakin bahwa dia adalah murid yang dulu kau dambakan?” tanya Sinta, menyesalkan tindakan Sri Rama.
“Tenanglah dulu, Nini Dewi. Sabar. Segala sesuatu yang dipikirkan dengan bijak dan tenang akan berbuah kebaikan,” jawab sang resi.
“Panembahan... apakah aku ini najis dan hanya layak mendapat balasan buruk?” Sinta menatap Walmiki dengan mata berkaca-kaca. Air matanya kembali mengalir deras.
“Bukan begitu, Nini Dewi. Sang Prabu Rama sedang tak mampu berpikir jernih. Banyak tuntutan dan prasangka buruk tentang dirimu. Ini Ayodya, bukan Pancawati. Ayodya adalah negeri yang suka berprasangka, dan tak mudah menerima kebenaran bila tak sesuai pola pikir kebanyakan. Engkau, Rama, dan Laksmana telah menjadi korban tudingan itu,” jelas Walmiki.
---
Ending
Sinta mulai menyadari bahwa sejak dahulu rakyat Ayodya memang selalu demikian. Mereka tidak ingin tahu kebenaran yang sesungguhnya. Dahulu mereka juga menangisi kepergian Rama, namun tak berani bersuara tentang kebenaran. Kini, hal serupa menimpanya—mereka tak percaya bahwa ia masih suci.
“Suatu hari, rakyat ini akan sadar dan kecewa terhadap pemimpin mereka. Banyak pemuka negeri ini memilih diam atas kebenaran, karena tahu keburukan satu sama lain. Selama itu tidak mengancam kejayaan mereka, mereka akan tetap diam,” tegas Resi Walmiki.
Enam bulan kemudian, Sinta melahirkan dua anak laki-laki kembar bernama Lawa dan Kusya. Sejak kecil hingga dewasa, mereka diasuh Resi Walmiki layaknya anak brahmana. Mereka dididik menjadi pemuda gagah, bertanggung jawab, dan berakhlak luhur. Lawa dan Kusya bahkan menjadi pemimpin muda di padepokan Gangga.
Demikianlah kehidupan Sinta bersama Lawa dan Kusya di tengah rakyat jelata. Di waktu luang, Resi Walmiki mengajarkan ilmu lahir dan batin, serta kisah Sri Rama—sejak lahir hingga mengusir permaisurinya dari Ayodya. Tak heran bila hati Lawa dan Kusya tumbuh membenci Sri Rama, yang mereka anggap semena-mena. Mereka tidak tahu, bahwa Sinta adalah ibu kandung mereka, dan Sri Rama—yang sangat mereka benci—adalah ayah mereka sendiri.
Editor : Mizan Ahsani