Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
ENTAH dari mana, tiba-tiba Resi Walmiki datang untuk menjemput Dewi Sinta yang tengah dirundung malapetaka.
Perbawa sang resi mampu menenangkan badai.
Namun tubuh Sinta telah basah kuyup, terbenam dalam lumpur akibat banjir.
Saat sadar dan melihat Resi Walmiki, Sinta terkejut. Ia mengenali beliau sebagai guru dari Sri Rama.
Tanpa banyak kata, Resi Walmiki menolong dan mengasuh Sinta yang saat itu tengah hamil, seperti anaknya sendiri.
“Duh Sang Panembahan... kau tahu sendiri perilaku Kakanda Rama Wijaya. Apakah kau masih yakin bahwa dia adalah murid yang dulu kau dambakan?” tanya Sinta, menyesalkan tindakan Sri Rama.
“Tenanglah dulu, Nini Dewi. Sabar. Segala sesuatu yang dipikirkan dengan bijak dan tenang akan berbuah kebaikan,” jawab sang resi.
“Panembahan... apakah aku ini najis dan hanya layak mendapat balasan buruk?”
Sinta menatap Walmiki dengan mata berkaca-kaca. Air matanya kembali mengalir deras.
“Bukan begitu, Nini Dewi. Sang Prabu Rama sedang tak mampu berpikir jernih. Banyak tuntutan dan prasangka buruk tentang dirimu. Ini Ayodya, bukan Pancawati. Ayodya adalah negeri yang suka berprasangka, dan tak mudah menerima kebenaran bila tak sesuai pola pikir kebanyakan. Engkau, Rama, dan Laksmana telah menjadi korban tudingan itu,” jelas Walmiki.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani